WAHANANEWS.CO, Jakarta - Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal menyebut insiden tragis seorang siswa SD berusia 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli buku dan pena seharga Rp10.000 merupakan "pukulan berat" untuk semua.
"Ini menjadi perhatian kita juga ya. Ini kan pukulan berat, kita sangat prihatin juga," kata Cucun menjawab pertanyaan wartawan saat ditemui di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Rabu (4/2/2026) melansir ANTARA.
Baca Juga:
Menko Muhaimin Pimpin Apel Akbar Peringatan Hari Santri di Titik Nol Peradaban Islam Barus
Oleh karena itu, Cucun kemudian meminta Komisi X yang membidangi urusan pendidikan untuk segera menelusuri penyebab di balik insiden tragis tersebut.
"Komisi X segera supaya mendengar apa yang terjadi sebetulnya ya. Apakah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ini juga sudah tahu? Ini kan baru hanya satu case, satu kasus, bisa saja terjadi beberapa. Makanya, kami ingin harus ada antisipasi ya, preventif dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah," kata Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal.
Paralel dengan itu, Cucun melanjutkan insiden yang dialami siswa SD di Ngada tersebut juga harus diusut hingga terang-benderang penyebabnya oleh kepolisian.
Baca Juga:
Tinjau SPPG Aek Tolang, Cak Imin: Memenuhi Standarisasi Makanan Bergizi Gratis
"Pendalaman dari aparat penegak hukum bagus (dilakukan, red.) biar terang-benderang juga ya permasalahannya. Jangan sampai misalkan tadi hanya disudutkan terkait pensil, ternyata ada permasalahan lain yang menunjukkan ke sana. Ini penting (ditelusuri, red.)," ujar Cucun.
Dalam kesempatan terpisah, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar menegaskan peristiwa tragis yang dialami korban tidak boleh lagi terulang.
Muhaimin pun meminta kepada masyarakat yang mengalami kesulitan untuk segera melaporkannya kepada pemerintah.
"Jadi, saya sudah minta kepada seluruh jajaran, baik pemerintah pusat maupun daerah, dan juga kepada masyarakat untuk betul-betul terbuka terhadap keadaannya. Apabila memang membutuhkan bantuan alat tulis, bantuan apapun, itu harus segera ditangkap (aspirasinya, red.), dan disampaikan. Jangan sampai beban-beban ekonomi tidak tersampaikan kepada para pejabat ataupun tokoh masyarakat," kata Muhaimin.
Seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT, mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya, inisial MGT (usia 47 tahun).
Dalam surat itu, sebagaimana telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, korban menuliskan:
“Surat buat Mama ****
Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi
Jangan menangis ya Mama
Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya
Selamat tinggal Mama”.
Korban tersebut diketahui tinggal bersama neneknya karena ibundanya, yang merupakan orangtua tunggal, bekerja sebagai petani dan kerja serabutan. Ibunda korban mengurusi lima orang anak, termasuk korban.
[Redaktur: Alpredo Gultom]