WAHANANEWS.CO, Jakarta - Peran masyarakat sipil dalam kerja-kerja kemanusiaan kembali disorot oleh Jusuf Kalla, yang menegaskan bahwa kepercayaan publik adalah fondasi utama agar bantuan bisa bergerak cepat dan tepat sasaran.
Dalam kuliah umum di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Depok, Selasa (08/04/2026), Kalla menjelaskan bahwa tantangan kemanusiaan saat ini datang dari konflik antarmanusia dan konflik dengan alam yang sama-sama berdampak luas.
Baca Juga:
KPK Panggil Tujuh Pejabat Biro Haji, Dalami Kasus Dugaan Korupsi Kuota 2023–2024
“Konflik terjadi di berbagai belahan dunia seperti Ukraina, Timur Tengah, hingga di dalam negeri seperti Papua. Selain itu, bencana alam seperti banjir, gempa, dan tsunami juga menimbulkan dampak kemanusiaan yang besar,” ujarnya.
Ia menguraikan bahwa konflik kemanusiaan kerap dipicu oleh ideologi, perebutan wilayah, kepentingan politik, hingga perebutan sumber daya alam yang memperparah situasi masyarakat sipil.
Menurut Kalla, penanganan masalah kemanusiaan tidak cukup hanya berfokus pada dampaknya seperti pengungsi, melainkan harus menyentuh akar persoalan konflik tersebut.
Baca Juga:
Pemkab Karawang Terapkan Kebijakan WFH bagi ASN, Pelayanan Publik Tetap Berjalan Optimal
“Kalau konfliknya selesai, masalah kemanusiaannya juga ikut selesai. Itu lebih cepat dan lebih efektif dibanding hanya mengurus dampaknya,” katanya.
Pengalaman menangani konflik di awal 2000-an seperti di Poso, Ambon, dan Aceh disebutnya sebagai bukti bahwa penyelesaian konflik dapat mengurangi dampak kemanusiaan secara signifikan, termasuk saat jumlah pengungsi mencapai sekitar 1,5 juta orang.
Ia menambahkan bahwa pendekatan logika, pemahaman akar masalah, serta keberanian menjadi kunci dalam meredam konflik sosial, termasuk yang berlatar belakang agama.