Lalu pihak keluarga meminta utusan Gontor untuk memberikan keterangan sebenarnya, dan akhirnya barulah disebutkan AM meninggal karena dianiaya
Pesantren Gontor pun saat ini telah menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa itu termasuk mengakui bahwa AM telah tewas akibat menjadi korban penganiayan. Terlepas dari permohonan maaf, keluarga AM akan tetap menempuh jalur hukum.
Baca Juga:
YLK Sumatera Selatan Ingatkan Warga Waspadai Produk Kedaluwarsa Jelang Lebaran 1446 H
"Kami akan meneruskan ini ke ranah hukum. Sesuai statement Gontor mengakui penganiayaan. Disesalkan sudah tahu ada penganiayaan kenapa dikemas ada surat kematian karena sakit," kata Titis.
Sementara, untuk laporan kepolisian saat ini diusut dengan LP model A atas kasus temuan kepolisian.
"Apabila dibutuhkan untuk membuat laporan baru model B kami akan buat, tapi untuk sekarang Polres Ponorogo sudah menanganinya dengan laporan model A," ujar Titis.
Baca Juga:
BPBD Sumsel Imbau Pemudik Waspadai Jalur Rawan Bencana Selama Mudik Lebaran
Sehari sebelumnya, pihak Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor mengakui pihaknya sempat menutupi penyebab kematian santrinya, AM (17) akibat dianiaya.
Juru Bicara Pondok Modern Darussalam Gontor, Noor Syahid berdalih hal itu memang sengaja dilakukan pihaknya untuk menjaga perasaan keluarga.
"Jadi sebetulnya dari awal ketika jenazahnya diserahkan, memang [penyebab meninggal korban] tidak untuk konsumsi umum," kata Noor Syahid, dilansir dari cnnindonesia, Rabu (7/9).