Purwanto, menurutnya, merupakan korban salah sasaran komplotan pelaku. Ia diculik, disandera pelaku yang meminta agar kardus berisi uang dikembalikan.
"Korban dipukuli, dianiaya, ditodong pistol dan diancam dibunuh bersama keluarganya," beber dia.
Baca Juga:
Jakarta dan Kota-Kota Satelit Bersatu, Transformasi Besar di Depan Mata
Selama tiga jam lebih disekap itu, korban juga dipaksa membuat video palsu atas arahan Ashraff Abu.
"Dia (Ashraff Abu) mengarahkan dengan kata-katanya untuk korban, dan merekamnya sendiri dengan Hpnya, sampai video pernyataan palsu itu akhirnya beredar luas," lanjutnya.
Ashraff, lanjutnya, diduga menjadi pemimpin atas peristiwa yang dialami penjual martabak di Pekalongan itu.
Baca Juga:
Jalan Langkat-Karo Kembali Tertimbun Longsor, Kendaraan Tak Bisa Melintas
Di lokasi penyanderaan, ia mengendalikan situasi. Selama 3 jam lebih disandera, Ashraff berada di sana. Ia terlihat mengatur siapa yang boleh masuk dan keluar ruangan. Sering berkomunikasi dengan pelaku pemukulan.
"Saat pelaku (pemukulan) memukuli, beberapa saat kemudian Ashraff mengangkat tangan, sebagai tanda berhenti. Hal itu berulangkali terjadi," ungkap dia.
Atas pemeriksaan itu, MKD DPR RI menyatakan akan terus menindaklanjuti dengan mengagendakan permintaan klarifikasi pihak-pihak terkait.