Salah satu pernyataan JK yang disorot adalah: "Kenapa agama gampang menjadi alasan konflik kayak di Poso, Ambon? Karena kedua-duanya Islam dan Kristen berpendapat mati atau menewaskan orang atau mematikan itu syahid. Saat konflik berlangsung kedua pihak berkeyakinan begitu. Kalau saya bunuh orang Islam, saya syahid. Kalau saya mati pun saya syahid. Akhirnya susah berhenti."
Setelah Dilaporkan, JK Klarifikasi
Sejalan dengan Arnod, Ephorus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Victor Tinambunan, juga mengingatkan pentingnya menjaga kejernihan berpikir, kebijaksanaan, dan semangat persatuan dalam menyikapi dinamika yang berkembang.
Baca Juga:
Usai Dipolisikan GAMKI, JK Bantah Menista Ajaran Kristen
Ia menilai, apabila terdapat pernyataan yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman terhadap ajaran agama, maka pelurusan sangat diperlukan, termasuk melalui klarifikasi.
Selain itu, langkah bijak seperti penyampaian klarifikasi atau permohonan maaf dinilai dapat menjadi bagian dari upaya menjaga harmoni.
Ephorus HKBP juga mengajak seluruh masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi, serta terus menjaga kerukunan antarumat beragama sebagai fondasi penting dalam kehidupan berbangsa.
Baca Juga:
Jusuf Kalla Sebut Kasus Ijazah Berlarut-larut, Ini Respons Pihak Jokowi
Setelah dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Jusuf Kalla melalui juru bicaranya, Husain Abdullah, memberikan klarifikasi atas polemik ceramah tersebut. Ia menegaskan bahwa apa yang disampaikan JK bukanlah pendapat pribadi.
Menurut Husain, JK hanya menggambarkan realitas sosial yang terjadi saat konflik di Poso dan Ambon berlangsung.“Jadi apa yang disampaikan Pak JK bukan pendapat pribadi tetapi realitas sosial saat itu yang berkembang di antara mereka yang saling berkonflik,” kata Husain, Senin (13/4/2026).
Ia menjelaskan, dalam ceramahnya JK menyampaikan pengalaman dan pembelajaran (lesson learned) saat berupaya mendamaikan konflik tersebut, termasuk pendekatan untuk mengubah cara pandang pihak-pihak yang bertikai.