Mantan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan, penurunan jumlah pesawat berdampak signifikan pada operasional bandara.
Jika sebelum pandemi ada hampir 700 pesawat yang beroperasi di Indonesia, kini hanya sekitar 420 pesawat yang aktif. Kondisi ini menjadi perhatian serius.
Baca Juga:
Srikandi dan YBM PLN Tasikmalaya Salurkan Kacamata Gratis untuk 576 Pelajar
Ketersediaan suku cadang pesawat juga menjadi salah satu penyebab lambatnya pemulihan industri penerbangan. Beberapa suku cadang yang diimpor dari Uni Soviet dan Ukraina terganggu akibat konflik yang melibatkan kedua negara tersebut.
Selain itu, daya beli masyarakat yang menurun akibat pandemi juga mempengaruhi penggunaan layanan penerbangan. Tarif penerbangan yang tinggi membuat banyak masyarakat enggan untuk bepergian dengan pesawat, memperparah kondisi bandara.
Dudy harus menghadapi tantangan ini dengan berbagai kebijakan inovatif.
Baca Juga:
PLN ULP Cikedung Wujudkan Mimpi Listrik untuk Rakyat Prasejahtera
Kementerian Perhubungan di bawah kepemimpinannya diharapkan mampu mendorong revitalisasi industri penerbangan, termasuk memperbaiki tata kelola bandara di seluruh Indonesia.
Dudy mempunyai tugas untuk menghidupkan kembali aktivitas di bandara-bandara yang sepi. Langkah strategis dibutuhkan untuk mendorong operasional penerbangan di daerah-daerah yang mengalami penurunan drastis.
Selain masalah bandara kosong, sektor transportasi laut dan darat juga membutuhkan perhatian serius.