WahanaNews.co | Gerakan ‘Kebaya Goes to UNESCO’ belakangan ini ramai diperbincangkan oleh berbagai pihak. Tak hanya komunitas, artis hingga istri pejabat juga turut mendukung gerakan tersebut.
Upaya tersebut dilakukan dalam merespons adanya seruan untuk mengajukan kebaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO. Banyak pihak yang percaya bahwa Indonesia memiliki akar sejarah yang kuat perihal kebaya.
Baca Juga:
Es Dunia Mencair Super Cepat, Kota-Kota Pesisir Terancam Tenggelam
Lantas, bagaimana sejarah kebaya di Indonesia?
Sebelum kebaya diciptakan, perempuan Nusantara dulunya mengenakan kain yang dililitkan mulai dari bawah ketiak (kemben) atau mulai dari pinggang. Pada saat itu, strata sosial menentukan cara orang berbusana.
Mereka yang berasal dari strata sosial tinggi mengenakan busana berlapis yang panjang terbuat dari material tertentu serta dilengkapi dengan aksesori seperti mahkota. Mereka yang dari strata sosial rendah memakai busana dengan sedikit lapisan dan juga pendek.
Baca Juga:
Gubernur Sulbar Suhardi Duka Terima Audiensi Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah 18
Sekitar abad ke-11, saat ajaran Islam masuk ke Jawa, lahirlah busana kebaya. Pada saat itu, mencuat pemikiran di mana umat Islam harus menggunakan busana yang tertutup.
Dari sana, kain yang sebelumnya hanya memperlihatkan sebagian dada dan pundak dibuat lebih tertutup dengan selendang yang disampirkan.
Seiring berjalan waktu, pengaruh bangsa-bangsa lain seperti China dan Portugis pun masuk ke Indonesia membuat kain yang hanya disampirkan kemudian diselubungkan ke tubuh dan dijahit. Bentuknya pun menyerupai jubah China yang panjang, longgar, dan belahan di bagian depan.