Mereka, disebut Yano, banyak yang mengaku
sebagai orang-orang turunan Indo walaupun tak semua dari mereka berasal dari
hasil kawin campur dengan orang Belanda.
Meski mereka sudah memilih kewarganegaraan
Belanda, ikatan batin dengan Depok masih kuat melekat.
Baca Juga:
Pajero Gadaian untuk Mudik Lebaran: Ketua RT Kasno Ditipu HS Rekan Sendiri
Untuk mengenang dengan Depok, orang-orang
Belanda Depok mendirikan paguyuban bernama De Dodol (Depok Ondervindt
Doorlopend Onze Liefde).
Kalimat tersebut berarti Depok membuat cinta
kami tetap.
Kemudian paguyuban tersebut diubah menjadi Stidas,
lalu BODAS (Bond van Depokkers, Aanverwanten en Sympathiserenden).
Baca Juga:
Sri Ratu Come Rihi: Kepala Disrumkim Kota Depok Bela Pengembang Cinere Apartment Resort, Menolak Aspirasi Warga Terzalimi
BODAS berarti Perkumpulan orang Depok, Suami
atau Istri yang Menikah dengan Orang Depok dan Para Simpatisan.
"Di saat itulah lahir singkatan dari kata
Depok di antara mereka, yang tidak lain adalah versi orang-orang Depok di
Belanda yang rindu pada desanya. Mereka pun mengartikan Depok seperti versi
kedua dan mereka secara rutin berkumpul pada waktu-waktu tertentu untuk
sama-sama bernostalgia mengenang desa mereka sambil mengadakan kegiatan
amal," tambah Yano.
Versi lain akronim tentang Depok yaitu Deze
Einheid Predikt Ons Kristus.