WAHANANEWS.CO, Jakarta - Tidak semua luka masa kecil terlihat jelas, namun dalam banyak kasus psikologi perkembangan menyebut absennya figur ayah dapat meninggalkan jejak yang panjang dalam cara seseorang mengelola emosi, membangun hubungan, hingga memandang dirinya sendiri saat dewasa.
Dalam kajian psikologi perkembangan, kehadiran ayah memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian, mengatur emosi, membangun identitas diri, serta memengaruhi cara seseorang menjalin hubungan sosial di masa depan.
Baca Juga:
Cepat Membalas Chat Bisa Jadi Tanda Kepribadian Kuat, Ini Penjelasannya
Namun realitas kehidupan tidak selalu ideal karena sebagian anak tumbuh tanpa figur ayah yang utuh akibat perceraian, kematian, jarak emosional, tuntutan pekerjaan yang menyita waktu, atau pola pengasuhan yang minim keterlibatan.
Bukan berarti masa depan mereka telah ditentukan, sebab banyak individu tetap berkembang menjadi pribadi yang sehat secara mental, stabil secara emosional, dan berhasil dalam berbagai aspek kehidupan.
Dilansir dari Geediting pada Rabu (11/2/2025), psikologi modern mencatat adanya beberapa pola karakter yang lebih sering muncul pada orang dewasa yang sejak kecil tidak mendapatkan dukungan figur ayah secara konsisten.
Baca Juga:
Sering Bertanya dan Sulit Puas, Bisa Jadi Itu Ciri IQ Tinggi
“Banyak penelitian menunjukkan bahwa kehadiran figur ayah membantu anak belajar mengelola emosi kompleks seperti marah, kecewa, takut, dan frustasi,” demikian penjelasan dalam kajian psikologi perkembangan.
Tanpa figur tersebut, sebagian individu ketika dewasa cenderung menghadapi kesulitan dalam regulasi emosi yang terlihat melalui sikap mudah tersinggung, defensif, kesulitan meredam konflik secara tenang, hingga kecenderungan menekan emosi dalam jangka panjang.
Dalam beberapa situasi, tekanan emosional juga dapat muncul dalam bentuk ledakan emosi tiba-tiba yang tidak terkontrol.