Kesulitan menetapkan batasan juga menjadi pola yang sering ditemui pada individu yang tidak memiliki figur ayah yang sehat selama masa pertumbuhan.
Ketika dewasa, kondisi ini dapat terlihat dari kebiasaan sulit berkata tidak, kecenderungan people pleasing, rasa takut konflik, hingga mudah terjebak dalam hubungan tidak sehat atau manipulatif secara emosional.
Baca Juga:
Cepat Membalas Chat Bisa Jadi Tanda Kepribadian Kuat, Ini Penjelasannya
Situasi tersebut sering membuat seseorang rela mengorbankan dirinya demi diterima oleh orang lain.
Selain itu, sebagian individu juga mengembangkan relasi psikologis yang tidak nyaman dengan figur otoritas atau figur maskulin.
Bentuknya dapat berupa rasa takut terhadap atasan, kesulitan menghadapi sosok dominan, reaksi berlebihan terhadap kritik, hingga dorongan kuat untuk terus membuktikan diri di hadapan figur berkuasa.
Baca Juga:
Sering Bertanya dan Sulit Puas, Bisa Jadi Itu Ciri IQ Tinggi
“Konflik yang belum selesai dengan figur ayah sering kali terbawa hingga seseorang berinteraksi dengan figur otoritas di masa dewasa,” demikian dijelaskan dalam perspektif psikologi perkembangan.
Menariknya, sebagian anak justru mengembangkan pola kemandirian berlebihan sebagai mekanisme pertahanan diri.
Pola ini sering ditandai dengan keyakinan bahwa seseorang hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.