Saat dewasa, kondisi tersebut dapat terlihat dari kesulitan meminta bantuan, penolakan terhadap dukungan emosional, hingga rasa bersalah ketika bergantung pada orang lain.
“Secara psikologis, hyper-independence sering kali bukan kekuatan murni, tetapi mekanisme bertahan dari pengalaman masa kecil,” demikian penjelasan dalam kajian tersebut.
Baca Juga:
Cepat Membalas Chat Bisa Jadi Tanda Kepribadian Kuat, Ini Penjelasannya
Dalam dinamika relasi, individu juga kadang tanpa sadar mengulang pola emosional masa kecil dengan memilih pasangan yang tidak hadir secara emosional atau membangun hubungan yang tidak seimbang.
Fenomena ini dalam psikologi dikenal sebagai repetition compulsion yaitu kecenderungan mengulang luka lama dengan harapan bawah sadar untuk menyembuhkannya.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa tidak semua anak tanpa figur ayah mengalami dampak psikologis negatif karena terdapat sejumlah faktor pelindung yang sangat berpengaruh.
Baca Juga:
Sering Bertanya dan Sulit Puas, Bisa Jadi Itu Ciri IQ Tinggi
Faktor tersebut antara lain kehadiran ibu atau caregiver yang stabil secara emosional, figur pengganti ayah seperti kakek, paman, guru, atau mentor, lingkungan sosial yang suportif, terapi psikologis, serta tingkat kesadaran diri yang baik.
“Trauma bukan hanya tentang apa yang terjadi, tetapi juga tentang dukungan yang hadir setelahnya,” demikian penjelasan dalam perspektif psikologi modern.
Para pakar juga menekankan pentingnya melihat kondisi ini tanpa stigma atau penghakiman.