Soetardjo menilai, tawaran itu sebagai jebakan politis. Ia menandaskan bahwa bangsa
Indonesia sudah merdeka. Maka, pemerintah RI-lah yang bertanggung
jawab atas nasib rakyat di Jawa Barat.
Soetardjo memutuskan untuk menolak
pemberian beras Belanda.
Baca Juga:
Rehabilitasi Prabowo untuk Guru Luwu Utara, Yusril Ungkap Tak Batalkan Pidana
Meski tegas, tidak lupa sang Gubernur mengucapkan terimakasih atas tawaran niat baik tersebut.
Seingat Soetardjo, seorang perwira
tinggi Inggris berpangkat mayor jenderal mencoba melobi dirinya.
Si Jenderal mempertanyakan, apakah Gubernur Soetardjo tidak takut bahaya kelaparan menimpa
rakyatnya?
Baca Juga:
Menepis Pandangan Salah Kaprah atas Kebijakan Pramono yang Dinilai Reaktif Menghadapi Banjir
Diperkirakan, perwira
tinggi tersebut adalah Mayor Jenderal Douglas Cyril Hawtorn. Dia
merupakan komandan tentara Sekutu dari Divisi ke-23 British India Army.
Sejarawan Frank Palmos, dalam Surabaya 1945: Sakral
Tanahku, mencatat, Hawtorn ditunjuk oleh Panglima Sekutu untuk Indonesia, Letnan Jenderal Sir Philip Christison,
membawahkan wilayah operasi meliputi Jawa, Madura, Bali, dan Lombok.
Soetardjo tidak kalah cerdik. Sambil
bergurau, dia menimpali, "Bukankah dahulu pemerintah Belanda sendiri
mengatakan bahwa rakyat kami, de
inlanders, bisa hidup segobang sehari?"