Jika massa otot berkurang, kemampuan tubuh membakar kalori dapat menurun sehingga berat badan berpotensi lebih cepat naik kembali ketika pola makan lama diterapkan.
Dicky juga menyoroti penggunaan hormon tiroid yang terkadang dimanfaatkan secara tidak tepat dalam program penurunan berat badan.
Baca Juga:
Demo Mahasiswa Soroti Kopdes Merah Putih, Menkop Beri Respons Tegas
"Hormon tiroid itu mempercepat metabolisme tubuh. Lemaknya turun, tapi ototnya juga turun," ujarnya.
Karena itu, keberhasilan program diet tidak cukup hanya diukur dari angka timbangan, melainkan juga harus memperhatikan komposisi tubuh seperti kadar lemak, massa otot, dan cairan tubuh.
Dicky menjelaskan saat ini hanya ada tiga jenis obat yang telah disetujui untuk terapi obesitas di Indonesia dan penggunaannya wajib berdasarkan resep serta pengawasan dokter.
Baca Juga:
Damai dengan AS, Iran Berpeluang Kantongi Dana Investasi Rp5.342 Triliun
Ketiga obat tersebut adalah diethylpropion yang berfungsi menekan nafsu makan, orlistat yang menghambat penyerapan lemak, serta golongan GLP-1 yang juga membantu mengendalikan nafsu makan.
"Cuma tiga di Indonesia yang di-approve untuk obesitas. Obat-obat yang lain enggak ada, [seperti] fentermin yang di luar negeri, enggak masuk ke sini," ucap Dicky.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih kritis terhadap klinik atau produk pelangsing yang tidak menjelaskan secara terbuka jenis obat yang digunakan.