WAHANANEWS.CO, Jakarta - Di balik gemerlap popularitas dunia influencer, realitas pahit justru mengintai ketika banyak kreator konten kesulitan meraih penghasilan stabil di tengah persaingan yang semakin padat.
Fenomena ini terjadi seiring meningkatnya jumlah orang yang ingin menjadi kreator konten seperti YouTuber hingga TikToker ternama, termasuk figur populer di Indonesia seperti Raffi Ahmad.
Baca Juga:
Cium Tangan Lalu Dihabisi, Mantan Menantu Diduga Terlibat Pembunuhan Lansia di Rumbai Pekanbaru
Namun, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa industri kreator konten kini semakin sesak dengan persaingan ketat untuk mendapatkan penghasilan.
Platform media sosial juga dilaporkan tidak lagi memberikan komisi sebesar sebelumnya kepada para kreator.
Selain itu, perusahaan atau brand kini semakin selektif dalam memilih influencer untuk bekerja sama.
Baca Juga:
Ramai di Medsos, Status Ayu Aulia di GBN-MI Dijelaskan
Salah satu contoh datang dari kreator konten Clint Brantley yang telah bekerja penuh waktu selama tiga tahun.
Ia membagikan konten di berbagai platform seperti TikTok, YouTube, dan Twitch dengan fokus pada tren game mobile Fortnite.
Meski memiliki lebih dari 400.000 pengikut dan rata-rata penonton di atas 100.000, pendapatannya masih lebih kecil dibandingkan gaji median pekerja penuh waktu di Amerika Serikat pada 2023.
Kondisi tersebut membuatnya belum berani mengambil komitmen finansial besar seperti menyewa tempat tinggal sendiri.
"Saya sangat rentan."
Laporan The Wall Street Journal pada Rabu (19/6/2024) menyebutkan bahwa mendapatkan penghasilan stabil sebagai kreator konten menjadi semakin sulit dari waktu ke waktu.
Persaingan yang semakin padat membuat pembagian pendapatan di industri ini menjadi semakin kecil.
Menurut laporan Goldman Sachs pada 2023, ratusan juta orang di seluruh dunia aktif membuat konten di media sosial, namun hanya sekitar 50 juta yang benar-benar menghasilkan uang dari aktivitas tersebut.
Distribusi pendapatan di kalangan influencer juga sangat timpang.
Sebanyak 48% influencer dilaporkan hanya memperoleh kurang dari US$ 15.000 per tahun, sementara hanya 14% yang mampu menghasilkan lebih dari US$ 100.000.
Faktor seperti jenis konten, durasi karier, serta status kerja full-time atau part-time sangat memengaruhi besarnya pendapatan yang diperoleh.
Meski terlihat menjanjikan, pekerjaan sebagai kreator konten ternyata membutuhkan usaha besar mulai dari perencanaan, produksi, hingga interaksi dengan audiens.
"Ini adalah pekerjaan yang sangat berat dibandingkan apa yang dikira kebanyakan orang."
Pernyataan tersebut disampaikan oleh analis Jasmine Enberg yang menilai banyak orang meremehkan kompleksitas profesi ini.
"Kreator yang bisa hidup dengan menjadi influencer telah melakukan pekerjaan ini selama bertahun-tahun."
Selain tekanan kerja, para kreator juga menghadapi keterbatasan karena tidak mendapatkan fasilitas seperti jaminan kesehatan atau pensiun sebagaimana pekerja kantoran.
Di tengah inflasi dan ketidakpastian ekonomi global, kondisi ini semakin memperberat upaya mereka dalam menjaga kestabilan finansial.
Pendapatan dari platform juga terus mengalami penurunan akibat perubahan kebijakan monetisasi.
TikTok, YouTube, dan Instagram sebelumnya memberikan berbagai program insentif untuk menarik kreator, namun kini syaratnya semakin ketat.
Sebagai contoh, TikTok kini mensyaratkan minimal 10.000 pengikut dan 100.000 tayangan per bulan untuk mendapatkan penghasilan.
YouTube juga menetapkan ambang batas tertentu untuk pembagian pendapatan iklan bagi kreator Shorts.
Kondisi ini membuat banyak kreator mengeluhkan penurunan pendapatan meskipun jumlah pengikut mereka terus bertambah.
Salah satu kreator, Ben-Hyun, mengungkapkan bahwa pendapatannya menurun drastis meski memiliki jutaan pengikut.
Sementara itu, kreator lain, Danisha Carter, menilai sistem pembayaran dari platform belum sepenuhnya adil bagi kreator.
"Kreator harus dibayar adil dengan persentase yang sesuai dengan pendapatan yang diraih aplikasi."
Ia juga menyoroti perlunya transparansi dalam sistem pembayaran yang diterapkan oleh platform.
"Harus ada transparansi soal bagaimana kami dibayar, dan kebijakannya harus konsisten."
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]