"Yang mencolok bukan hanya remaja tidak mendapatkan tidur yang cukup, tetapi juga bagaimana waktu tidur terus menurun selama lebih dari tiga dekade, sehingga remaja saat ini mendapatkan istirahat lebih sedikit dibandingkan dengan generasi mana pun sebelumnya," ujar Widome, dikutip dari laman resmi University of Minnesota.
Temuan tersebut membuat persoalan tidur remaja tidak bisa hanya dipandang sebagai masalah kedisiplinan pribadi di rumah.
Baca Juga:
Dendam Kakaknya Dikeroyok, Adik Tikam Seorang Remaja di Nias hingga Tewas
Kurang tidur pada anak sekolah dapat merembet ke banyak hal, mulai dari rasa lelah, sulit berkonsentrasi, gangguan emosi, penurunan prestasi akademik, hingga risiko penyakit kronis pada masa depan.
Penelitian lain dari University of Zurich dan University Children's Hospital Zurich juga menunjukkan bahwa tidur yang kurang dapat memengaruhi kemampuan belajar, kesehatan mental, dan perkembangan fisik remaja.
Pakar pediatri perkembangan dari University of Zurich, Oskar Jenni, mengatakan kondisi biologis remaja memang membuat mereka cenderung tidur lebih larut dibandingkan orang dewasa.
Baca Juga:
Lestari Moerdijat Ajak Remaja Jujur Cantumkan Usia di Media Sosial demi Keamanan Digital
"Hal ini mengkhawatirkan karena kurang tidur kronis tidak hanya memengaruhi kesejahteraan, tetapi juga memiliki dampak yang terukur terhadap kesehatan mental, perkembangan fisik, dan kemampuan belajar," katanya, dikutip dari laman University of Zurich.
Para peneliti menjelaskan bahwa jam biologis remaja mengalami pergeseran selama masa pertumbuhan.
Akibat perubahan itu, banyak remaja secara alami lebih sulit tidur lebih awal pada malam hari.