WAHANANEWS.CO, Jakarta - Manusia sudah bisa mengirim rover ke Mars, tetapi bertahan duduk berjam-jam di kursi pesawat kelas ekonomi masih terasa seperti ujian kesabaran yang melelahkan.
Ruang kaki yang semakin sempit, turbulensi yang sulit diprediksi, hingga tangisan bayi di kabin membuat perjalanan udara kerap menjadi pengalaman yang menguras fisik dan mental.
Baca Juga:
TNI Bubarkan Nobar Film “Pesta Babi”, Komnas HAM: Cederai Hak Warga
Menjelang musim liburan, banyak penumpang mulai mencari cara agar tetap nyaman dan tenang selama penerbangan.
Kursi kelas ekonomi kini terasa makin sempit sehingga lutut penumpang sering membentur rangka kursi di depan.
Kondisi tersebut diperparah dengan meningkatnya turbulensi yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi perhatian serius para ahli.
Baca Juga:
Tegur Maling Motor, Brigadir Arya Meregang Nyawa dengan Luka Tembak di Kepala
Fenomena clear-air turbulence bahkan dapat terjadi saat langit tampak cerah dan disebut meningkat hingga 55 persen sejak 1979 akibat perubahan iklim.
Para peneliti memperingatkan bahwa turbulensi yang cukup kuat hingga menyebabkan cedera berpotensi meningkat dua hingga tiga kali lipat di masa depan.
Jaclynn Seah, travel blogger asal Singapore yang telah mengunjungi sekitar 60 negara, menilai dunia penerbangan kini semakin mahal dan kurang nyaman.
"Maskapai kini memungut biaya untuk semua hal," katanya.
Menurut Jaclynn, makanan, selimut, dan hiburan yang dulu dianggap standar kini sering dijadikan layanan tambahan berbayar.
Masalah lain yang membuatnya kesal adalah kebersihan kabin yang dinilai kurang terjaga.
"Bukan cuma karena COVID," ujarnya.
"Tapi secara umum kursi-kursi ini memang jarang dibersihkan secara menyeluruh saat pergantian penerbangan."
Ia juga menyarankan penumpang selalu membawa earbud peredam bising untuk mengurangi suara mesin pesawat.
"Meredam suara mesin pesawat yang terus-menerus sangat membantu menenangkan diri, bahkan jika kamu tidak memutar musik."
Sebagian pelancong memanfaatkan program bid-to-upgrade agar bisa mendapatkan kursi premium dengan biaya lebih terjangkau.
Ada pula yang mengumpulkan miles melalui kartu kredit untuk memperoleh fasilitas penerbangan yang lebih nyaman.
Beberapa penumpang memilih bekerja selama penerbangan agar waktu terasa berlalu lebih cepat.
Strategi lain adalah membuat aturan pribadi, seperti memilih kelas premium untuk penerbangan yang berlangsung lebih dari enam jam.
Tangisan bayi di dalam kabin juga terbukti dapat memicu reaksi stres secara fisik pada penumpang di sekitarnya.
Studi dari Université Jean Monnet menemukan bahwa jeritan balita dapat meningkatkan suhu tubuh orang yang mendengarnya.
Sebagai solusi murah, sejumlah penumpang memanfaatkan fitur Background Sound di Apple iPhone untuk memutar white noise.
Trik mental yang juga dianggap efektif adalah defensive pessimism, yaitu mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk selama penerbangan.
Dengan ekspektasi yang realistis, pengalaman terbang yang semula terasa menyiksa justru dapat menjadi lebih mudah dinikmati.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]