"Hasilnya adalah sebuah lingkungan ketika perhatian yang viral sering kali lebih diutamakan daripada akurasi, dan rumor dapat berubah menjadi kenyataan melalui pengulangan dan pembenaran," ujar Ida.
Ida menegaskan kekuatan media sosial harus diimbangi dengan tanggung jawab dan sikap kritis dari para pengguna.
Baca Juga:
Kinerja Melesat 345,97 Persen, PTDI Rombak Struktur Pengurus Perusahaan
Tanpa kemampuan memilah informasi, masyarakat berisiko membentuk opini berdasarkan kabar yang belum tentu benar.
Ia menilai literasi digital menjadi kebutuhan penting di tengah derasnya arus informasi media sosial.
Pengguna perlu memahami bahwa setiap unggahan, komentar, dan konten yang dibagikan dapat berdampak pada opini publik.
Baca Juga:
Soundbar Berubah Jadi 'Keyboard Hantu', Komputer Korban Bisa Diperintah Diam-diam
Penelitian Georgetown University juga menilai peningkatan literasi digital sebagai salah satu langkah penting untuk membangun ekosistem media sosial yang lebih sehat.
Selain dukungan teknologi, pengguna perlu menyadari bahwa mereka memiliki kendali terhadap informasi yang dikonsumsi dan disebarkan.
Dengan kesadaran tersebut, media sosial dapat menjadi ruang partisipasi publik yang produktif tanpa mengabaikan akurasi dan tanggung jawab.