WAHANANEWS.CO - Pernah merasa seperti tokoh utama dalam kehidupan sendiri hingga menganggap semua perhatian tertuju kepada diri sendiri? Kondisi yang dikenal sebagai main character syndrome ini memang bukan gangguan medis, tetapi jika berlebihan dapat memengaruhi hubungan sosial dan cara seseorang memandang orang lain.
Istilah main character syndrome belakangan populer di media sosial untuk menggambarkan seseorang yang merasa dirinya menjadi pusat cerita, sementara orang lain hanya berperan sebagai figuran dalam kehidupannya.
Baca Juga:
Bukan Soal Nilai atau IQ, Ini 7 Ciri Orang Cerdas yang Jarang Disadari
Mengutip penjelasan psikolog Susan Albers dari Cleveland Clinic, main character syndrome bukan merupakan diagnosis medis, tetapi pola perilakunya nyata dan semakin sering ditemukan, terutama di era media sosial.
"Main character energy adalah kondisi ketika seseorang merasa seperti kamera selalu menyorot dirinya," ujar Susan Albers.
Perasaan tersebut dapat memengaruhi cara seseorang berbicara, berpakaian, hingga bersikap di hadapan orang lain karena ingin membangun citra yang sesuai dengan narasi kehidupan yang diinginkannya.
Baca Juga:
Masih Suka Menulis di Buku Catatan? Psikologi Sebut Anda Mungkin Punya 8 Kelebihan Ini
Sebagai contoh, ada orang yang selalu berusaha menjadi pusat perhatian agar terlihat lucu, sementara yang lain sengaja bersikap dramatis supaya hidupnya tampak lebih menarik.
Di sisi lain, pola pikir tersebut juga dapat memberikan dampak positif karena mampu meningkatkan rasa percaya diri, memotivasi seseorang, hingga mendorongnya keluar dari zona nyaman.
Namun, masalah muncul ketika seseorang mulai mengabaikan kebutuhan dan perasaan orang lain demi menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian.