Orang dengan main character syndrome sering kali mengalihkan pembicaraan kepada dirinya sendiri, bahkan ketika orang lain sedang menceritakan masalah atau pengalaman pribadi.
Mereka juga cenderung meromantisasi penderitaan dengan menganggap setiap masalah sebagai bagian penting dari perjalanan hidup yang dramatis.
Baca Juga:
Bukan Soal Nilai atau IQ, Ini 7 Ciri Orang Cerdas yang Jarang Disadari
Menurut Susan Albers, perilaku tersebut memiliki kemiripan dengan sifat narsistik, terutama ketika seseorang mulai haus perhatian dan validasi dari lingkungan sekitarnya.
"Akar dari perilaku ini sering kali justru berasal dari rasa tidak aman, kecemasan, atau rendah diri," jelasnya.
Karena itu, sebagian orang menggunakan persona sebagai "tokoh utama" untuk menutupi rasa tidak percaya diri yang dimiliki.
Baca Juga:
Masih Suka Menulis di Buku Catatan? Psikologi Sebut Anda Mungkin Punya 8 Kelebihan Ini
Media sosial dinilai menjadi salah satu faktor yang memperkuat munculnya main character syndrome karena banyak orang terdorong menampilkan sisi terbaik, paling menarik, dan paling dramatis dari kehidupannya demi mendapatkan perhatian.
Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial juga dapat membuat seseorang merasa harus memiliki kehidupan yang "sinematik" agar dianggap menarik, sehingga validasi dari orang lain menjadi semakin penting.
Mengutip Healthline, terdapat sejumlah tanda yang sering muncul pada seseorang dengan main character syndrome, di antaranya haus perhatian dan validasi, berperilaku dramatis, merasa paling penting dalam situasi tertentu, sulit berempati, meromantisasi masalah hidup, mengabaikan dampak perilaku terhadap orang lain, sering ingin menciptakan versi baru dirinya, serta bertindak berbeda demi membangun citra tertentu.