WAHANANEWS.CO, Jakarta - Dua pekan tanpa internet di ponsel mampu mengubah cara kerja otak secara drastis, bahkan efeknya disebut setara dengan “memutar balik” penurunan fungsi kognitif selama satu dekade.
Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa menghentikan akses internet di ponsel selama 14 hari dapat meningkatkan kemampuan fokus secara signifikan sekaligus memperbaiki kondisi mental seperti depresi.
Baca Juga:
Sering Dianggap Antisosial, 3 Kebiasaan Ini Justru Tanda Kecerdasan Tinggi
Mengutip laporan yang dirilis Rabu (9/4/2026), studi ini melibatkan 467 orang dewasa dengan usia rata-rata 32 tahun yang diminta menonaktifkan seluruh akses internet di ponsel mereka.
Peserta tetap diperbolehkan menggunakan fungsi dasar seperti telepon dan SMS, namun seluruh aplikasi berbasis internet seperti media sosial, video, dan game dihentikan sementara.
Pendekatan ini secara efektif mengubah smartphone menjadi “dumb phone”, menyerupai perangkat komunikasi sederhana sebelum era digital berkembang pesat.
Baca Juga:
Polres Tebo diminta segera Tangkap inisial H dan STI pelaku PETI Ilegal di kabupaten Tebo
Hasilnya menunjukkan peningkatan tajam pada kemampuan mempertahankan perhatian dalam jangka waktu panjang.
Kemampuan fokus para peserta meningkat hingga setara dengan kondisi otak seseorang yang 10 tahun lebih muda.
Efek tersebut paling terlihat pada peserta yang konsisten menjalani detoks selama dua minggu penuh.
Sebanyak 91 persen peserta mengalami peningkatan pada setidaknya satu aspek, baik dari sisi fokus, kesehatan mental, maupun kesejahteraan secara umum.
Tidak hanya aspek kognitif, kondisi emosional peserta juga menunjukkan perbaikan yang signifikan.
Gejala depresi dilaporkan menurun, bahkan disebut lebih efektif dibandingkan penggunaan obat antidepresan dan setara dengan terapi perilaku kognitif.
Mayoritas peserta merasa lebih puas terhadap hidup dan mengalami peningkatan emosi positif selama masa detoks berlangsung.
“Hal yang perlu ‘didetoks’ bukan telepon atau pesan, tetapi media sosial dan stimulasi cepat dari aplikasi,” ujar Prof. Kostadin Kushlev dari Georgetown University.
Peneliti menegaskan bahwa persoalan utama bukan pada perangkat ponsel itu sendiri, melainkan pada jenis konten yang dikonsumsi.
Paparan berlebihan terhadap konten instan seperti media sosial, video pendek, dan game dinilai mengganggu kemampuan otak dalam menjaga fokus.
Selama penelitian berlangsung, waktu penggunaan layar peserta turun drastis dari lebih dari lima jam menjadi kurang dari tiga jam per hari.
Perubahan ini diikuti dengan pergeseran kebiasaan ke aktivitas yang lebih sehat seperti olahraga, membaca, hingga interaksi sosial secara langsung.
Kombinasi perubahan perilaku tersebut berkontribusi besar terhadap peningkatan kesehatan mental dan kesejahteraan peserta.
Menariknya, manfaat dari detoks digital ini tidak langsung hilang setelah eksperimen berakhir.
Dua minggu setelah kembali menggunakan ponsel seperti biasa, kondisi mental peserta tetap berada pada level yang lebih baik dibandingkan sebelum penelitian.
Sebagian peserta bahkan tidak kembali sepenuhnya ke pola penggunaan lama, menunjukkan adanya perubahan kebiasaan yang lebih permanen.
Temuan ini memperlihatkan bahwa jeda singkat dari paparan digital dapat membantu memutus pola adiktif terhadap ponsel.
Pengurangan akses internet dan media sosial terbukti memberi dampak nyata terhadap kesehatan otak.
Perbaikan fokus, stabilitas emosi, serta peningkatan kesejahteraan dapat dirasakan hanya dalam waktu dua minggu.
Kebiasaan sederhana seperti detoks digital menjadi salah satu cara efektif untuk menjaga fungsi kognitif tetap optimal di tengah derasnya arus informasi.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]