“Katanya anak saya meninggal karena overdosis Panadol dan memang ada sakit lambung,” tutur Lanniari dengan suara bergetar saat menerima penjelasan awal terkait kematian putrinya.
Selain dugaan overdosis obat, keluarga juga diinformasikan bahwa Nazwa memiliki riwayat dispepsia atau gangguan lambung.
Baca Juga:
Pemerintah Perkuat Narasi Diplomatik Indonesia di Forum Global Terkait Migran
Duka keluarga kian bertambah ketika biaya pemulangan jenazah Nazwa ke tanah air disebut mencapai Rp 138 juta, sementara opsi pemakaman di Kamboja tetap membutuhkan dana Rp 50–60 juta.
“Kalau biaya sebesar itu kami tidak sanggup, kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan,” ucap Lanniari pasrah menghadapi kenyataan pahit tersebut.
Kematian Nazwa kemudian menyedot perhatian publik dan lembaga legislatif di Sumatera Utara, mengingat statusnya diduga sebagai pekerja migran ilegal.
Baca Juga:
Ombudsman Ingatkan Tawaran Kerja ke Luar Negeri di Medsos Rentan TPPO
Wakil Ketua Komisi A DPRD Sumatera Utara, Zeira Salim Ritonga, mendesak pemerintah daerah hingga pemerintah pusat untuk segera melakukan investigasi menyeluruh atas kematian Nazwa.
“Videonya sudah kita lihat, korban dalam keadaan sadar minta tolong dan minta kakinya dilepaskan, lalu ada orang berbaju nakes dengan logat Kamboja menyuntikkan sesuatu,” kata Zeira pada Kamis (21/8/2025).
Menurut Zeira, rekaman tersebut memunculkan kecurigaan serius yang tidak bisa diabaikan begitu saja.