WAHANANEWS.CO - Perlintasan liar di kawasan Tebet yang selama ini digunakan warga akhirnya ditutup PT KAI demi alasan keselamatan setelah dinilai rawan memicu kecelakaan kereta api dan membahayakan masyarakat sekitar.
Perlintasan sebidang liar di kawasan RT 01 dan RT 03 antara Stasiun Cawang dan Stasiun Tebet resmi ditutup PT KAI untuk menjaga keselamatan perjalanan kereta api maupun warga sekitar pada Kamis (14/5/2026).
Baca Juga:
Bareskrim Bongkar Sarang Narkoba, Izin B Fashion dan The Seven Dicabut
"Kami tutup untuk keselamatan perjalanan kereta api dan warga masyarakat," kata pejabat humas KAI Daop 1 Jakarta Franoto saat dihubungi, Kamis (14/5/2026).
Franoto mengatakan pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada warga terkait penutupan perlintasan liar tersebut dan mayoritas masyarakat mendukung langkah yang dilakukan PT KAI.
"Sudah (sosialisasi). Warga mendukung," jelasnya.
Baca Juga:
Polisi Tangkap Pencuri Ponsel WN Polandia di Kebon Sirih dalam 24 Jam
Sementara itu, Deputi 2 Daop 1 Jakarta Deddy Hendrady menjelaskan penutupan perlintasan liar memang menjadi program rutin PT KAI setiap tahun karena tingginya angka kecelakaan di lokasi perlintasan ilegal.
"Sebenarnya kita udah punya program setiap tahun ada penutupan penutupan liar karena dari pengalaman setiap hari nih hampir ada tabrakan, bukan tabrakan ya, orang-orang nabrak kereta Karena ini juga perlu informasikan ke media, di internal kita kalau ada motor ditabrak kereta kendaraan, orang. Itu adalah kebalikannya, orang yang nabrak kereta karena kereta nggak bisa ngindar gitu ya," kata Deddy kepada wartawan.
Deddy menambahkan PT KAI mendapat tugas dari pusat untuk menutup sekitar 40 perlintasan liar yang mayoritas memiliki lebar kurang dari dua meter dan tidak dilengkapi penjaga.
"Dari pusat kita ditugaskan untuk menyelesaikan sekitar 40 perlintasan liar yang dimana lebarnya kurang dari 2 meter tidak ada penjaga, dan akan kita tutup untuk keselamatan operasional kereta api khususnya," imbuhnya.
Kepala Seksi Pemerintahan Kebon Baru, Tebet, Samtopri, mengatakan sosialisasi kepada warga juga telah dilakukan pihak kelurahan dan masyarakat diminta mendukung penertiban perlintasan liar tersebut.
"Nanti setelah program ini berjalan, mari kita dukung, mari kita bantu terutama PT KAI dalam menertibkan lintasan-lintasan pejalan kaki dan sepeda motor yang ada di Kebon Baru ini," kata Samtopri.
Meski demikian, Samtopri berharap masih ada satu perlintasan yang tetap dibuka dan ditata secara resmi karena akses tersebut dibutuhkan warga untuk aktivitas sehari-hari seperti menuju puskesmas, kantor kecamatan, dan jalur lain di sekitar Kebon Baru.
"Saya berharap masih ada yang disisakan satu. Karena ini aksesnya masyarakat, terutama dari warga Kebon Baru yang ke Puskesmas, yang ke Kecamatan, dan ke jalur-jalur yang lain. Jadi harapan kami ya paling tidak ada satu perlintasan nanti yang bisa diakui atau terdaftar di PT KAI, supaya perlintasan ini bisa dipergunakan masyarakat untuk lalu-lalang," jelasnya.
"Karena kalau ini semuanya ditutup, ini sangat merepotkan ya. Karena warga itu harus memutar dari Gudang Peluru sana, jauh. Gudang Peluru sangat jauh ya. Harapan kami itu aja sih. Mudah-mudahan diberikan satu akses yang terdaftar untuk perlintasan yang bermanfaat untuk warga Kelurahan Kebon Baru," imbuhnya.
Perlintasan liar tersebut kini ditutup menggunakan empat tiang besi di kedua sisi jalur rel dan dilengkapi spanduk peringatan bergambar tengkorak.
"Awas berbahaya kereta api melintas. Dilarang melintasi jalan rel ini!!!" demikian isi tulisan spanduk tersebut.
Salah seorang warga Tebet Timur bernama Adi mengaku mendukung langkah PT KAI menutup perlintasan liar karena dinilai penting untuk mencegah kecelakaan seperti insiden di Bekasi beberapa waktu lalu.
"Saya setuju (perlintasan ditutup) ya kalau lihat kemarin yang di Bekasi. Di situ kan taksi nyangkut kan. Jadi kalau saya pribadi saya setuju, takutnya keulang lagi di sini," kata Adi saat ditemui di sekitar lokasi, Jumat (15/5/2026).
Meski mendukung penutupan, Adi berharap PT KAI tetap menyediakan satu perlintasan resmi agar warga tidak perlu memutar terlalu jauh saat beraktivitas sehari-hari.
"Itu benar juga ya (ada perlintasan yang tetap buka), jadi muternya jauh. Nah kalau gitu, lintasannya kalau bisa diresmiin ntar sama KAI ya diresmiin, dipakein palang otomatis kalau bisa gitu ya," katanya.
Adi berharap tidak ada lagi kecelakaan di perlintasan rel kereta api dan warga semakin berhati-hati saat melintas di sekitar jalur kereta.
"Harapannya semoga nggak ada kecelakaan lagi, terus juga bisa lebih hati-hati aja warga sekitar sini," ujarnya.
Hal senada juga disampaikan warga Kebon Baru bernama Aji yang meminta agar tetap tersedia akses perlintasan di sekitar lokasi karena jalur tersebut digunakan warga menuju sekolah hingga Pasar Tebet Timur.
"Kalau saya boleh minta, tolong tetap adain perlintasan di sekitar sini yang buka. Soalnya gimana ya, muternya jauh kalau di sini ditutup semua," katanya.
"Terus kan sekitar sini juga ada yang sekolah, ada yang dagang di PSPT (Pasar Tebet Timur). Jadi ya penginnya gitu ya," katanya.
Aji menilai penutupan perlintasan liar menjadi bagian dari evaluasi PT KAI usai kecelakaan kereta api di Bekasi Timur beberapa waktu lalu.
"Mungkin karena KAI lihat kecelakaan yang kemarin di Bekasi itu ya, evaluasi, jadi saya lihatnya KAI pengin nutupin perlintasan-perlintasan kecil yang nggak resmi. Mungkin gitu ya barang kali," katanya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]