Ayah korban telah merantau ke Kalimantan sejak 11 hingga 12 tahun lalu dan tidak pernah kembali.
Dalam keseharian, selain bersekolah, YBR kerap membantu neneknya menjual sayur, ubi, dan kayu bakar demi menyambung hidup.
Baca Juga:
Mahasiswa dan Guru Gugat Pemerintah ke MK soal Pemangkasan Anggaran Pendidikan untuk MBG
Untuk kebutuhan makan, mereka mengandalkan hasil kebun seadanya, dengan pisang dan ubi menjadi menu paling sering.
Dari pantauan lapangan dan keterangan warga, keluarga YBR hidup dalam tekanan ekonomi berkepanjangan sejak ditinggalkan kepala keluarga.
Kondisi tersebut berdampak pada pengasuhan anak yang terpisah, minimnya pendampingan emosional, serta terbatasnya akses pendidikan.
Baca Juga:
Mendikdasmen Tegaskan TKA Bukan Penentu Kelulusan, Fokus Ukur Capaian Akademik
Ironisnya, keluarga ini juga tercatat luput dari berbagai program bantuan pemerintah, mulai dari bantuan rumah layak huni, pendidikan, hingga bantuan sosial.
Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Ngada, Gerardus Reo, turun langsung meninjau rumah korban dan bertemu keluarganya pada Selasa (3/2/2026).
“Setelah membaca berita di media, saya sangat tersentuh, saya ingin memastikan langsung apakah benar korban tinggal bersama nenek di pondok, dan setelah saya lihat, itu benar,” ungkap Gerardus Reo.