Fenomena ini nyata ia rasakan selama bersekolah di Jakarta.
Namun, Rommi sangat bersyukur hidup di lingkungan perkotaan dengan exposure pendidikan yang baik meskipun keadaan ekonomi keluarga tidak stabil.
Baca Juga:
Pemkot Yogyakarta Upayakan Pemerataan Kualitas Pendidikan agar Tak Terpusat
Orang tuanya sendiri semangat menyekolahkannya setinggi mungkin, kendati keduanya perantau dari Pulau Sumatera lulusan SMP dan SMA.
Kesenjangan pendidikan di depan mata dan semangat orang tuanya itu memotivasi Rommi untuk serius mendukung pendidikan anak desa.
Berbekal pengalaman mengajar anak-anak di pelosok Bandung sejak tahun pertama di bangku kuliah, ia mengajak teman-temannya untuk membuat konsep pembangunan desa.
Baca Juga:
Presiden Prabowo Tingkatkan Kesejahteraan dan Kompetensi Guru, Tunjangan Naik hingga Program Beasiswa Diperluas
Mengoptimalkan dana dari ITB, Rommi dan kawan-kawannya mulai melakukan roadshow ke lima sekolah di Desa Cinta Asih.
Bersama teman-teman dari Gebrak Indonesia, ia membina kembali hubungan antara mahasiswa dan warga Desa Cinta Asih yang sempat terputus akibat pandemi Covid-19.
Rommi menuturkan, sebelumnya tidak mudah bagi mahasiswa untuk bertahan tinggal di desa selama 6 bulan.