Fenomena ini nyata ia rasakan selama bersekolah di Jakarta.
Namun, Rommi sangat bersyukur hidup di lingkungan perkotaan dengan exposure pendidikan yang baik meskipun keadaan ekonomi keluarga tidak stabil.
Baca Juga:
YBM PLN UP3 Purwakarta Salurkan Bantuan Pendidikan bagi Santri Dhuafa
Orang tuanya sendiri semangat menyekolahkannya setinggi mungkin, kendati keduanya perantau dari Pulau Sumatera lulusan SMP dan SMA.
Kesenjangan pendidikan di depan mata dan semangat orang tuanya itu memotivasi Rommi untuk serius mendukung pendidikan anak desa.
Berbekal pengalaman mengajar anak-anak di pelosok Bandung sejak tahun pertama di bangku kuliah, ia mengajak teman-temannya untuk membuat konsep pembangunan desa.
Baca Juga:
PLN Sumedang Tingkatkan Daya Listrik Sekolah Rakyat Jadi 555 kVA, Dukung Pembelajaran Lebih Optimal
Mengoptimalkan dana dari ITB, Rommi dan kawan-kawannya mulai melakukan roadshow ke lima sekolah di Desa Cinta Asih.
Bersama teman-teman dari Gebrak Indonesia, ia membina kembali hubungan antara mahasiswa dan warga Desa Cinta Asih yang sempat terputus akibat pandemi Covid-19.
Rommi menuturkan, sebelumnya tidak mudah bagi mahasiswa untuk bertahan tinggal di desa selama 6 bulan.