WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pemerintah menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) nasional melalui perluasan dan pemerataan akses pendidikan tinggi.
Upaya ini dipandang sebagai langkah fundamental untuk menyiapkan generasi muda Indonesia agar mampu berkompetisi di tingkat global, seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan industri.
Baca Juga:
Komdigi Putus Sementara Akses Grok, Lindungi Publik dari Konten Pornografi AI
Salah satu strategi utama yang terus diperkuat adalah pengembangan program beasiswa nasional bagi pelajar dan mahasiswa berprestasi.
Melalui skema ini, negara hadir memberikan dukungan finansial agar potensi generasi muda dapat berkembang secara optimal tanpa terkendala faktor ekonomi.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menyampaikan kebijakan tersebut dalam forum dialog Presiden Republik Indonesia bersama kalangan akademisi yang berlangsung di Istana Negara.
Baca Juga:
Satgas Pascabencana Sumatra Resmi Dipimpin Mendagri, DPR Pastikan Pengawasan Ketat
Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya peran negara dalam menciptakan ekosistem pendidikan tinggi yang inklusif dan berdaya saing.
Menurut Brian, dukungan pembiayaan pendidikan merupakan fondasi utama dalam mencetak talenta unggul di berbagai sektor strategis.
Ia mengungkapkan bahwa Indonesia setiap tahunnya meluluskan sekitar 1,7 juta sarjana dari beragam disiplin ilmu, mulai dari sains dan teknologi hingga ilmu sosial dan humaniora.
Potensi besar ini, lanjutnya, harus dikelola secara serius dan terarah agar menjadi kekuatan utama bangsa di kancah internasional.
"Kami ingin memastikan negara hadir dalam setiap langkah anak bangsa yang ingin maju. Program LPDP secara konsisten terus melahirkan talenta unggul, untuk tahun ini, kami menargetkan 5.750 penerima beasiswa baru," ujarnya di Jakarta, Kamis 15 Januari 2026.
Brian merinci, kuota beasiswa tersebut terdiri atas 1.000 penerima beasiswa Garuda untuk jenjang sarjana (S1), 4.000 penerima untuk jenjang magister dan doktor (S2 dan S3), serta 750 kuota khusus bagi program doktor spesialis.
Ia menegaskan bahwa pemberian beasiswa pada jenjang pascasarjana akan difokuskan pada bidang-bidang tertentu yang dinilai strategis.
"Program S2 dan S3 akan diselaraskan dengan target pertumbuhan industri yang dicanangkan Bapak Presiden dalam Asta Cita. Kita butuh tenaga ahli yang sesuai dengan arah pembangunan nasional," katanya.
Penajaman fokus pada program beasiswa S2 dan S3 ini diharapkan dapat menghasilkan lulusan dengan keahlian yang relevan dengan kebutuhan industri, sekaligus mendukung agenda pembangunan nasional jangka panjang.
Pemerintah menargetkan agar lulusan penerima beasiswa mampu berkontribusi langsung dalam percepatan pertumbuhan ekonomi, inovasi teknologi, serta penguatan daya saing nasional.
Selain program LPDP, pemerintah juga terus memperkuat Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) sebagai instrumen pemerataan akses pendidikan tinggi.
Program ini ditujukan bagi mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu agar dapat menempuh pendidikan tinggi tanpa harus memikirkan beban biaya.
Saat ini, tercatat lebih dari 1,1 juta mahasiswa aktif setiap tahun menerima manfaat KIP-K, dengan seluruh biaya pendidikan dan biaya hidup ditanggung oleh negara.
Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp16 triliun per tahun untuk program ini, sebagai bentuk komitmen nyata dalam memastikan tidak ada generasi muda potensial yang tertinggal dalam mengakses pendidikan tinggi.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]