"Secara adat, masyarakat Batak dikenal kuat dan konsisten dalam prinsip hidupnya. Mereka memiliki kesadaran tinggi bahwa kecerdasan intelektual harus berjalan seiring dengan kecerdasan kultural. Ini sudah menjadi tradisi turun-temurun," ujar Togar Butar-Butar, dikutip dari Mashable Indonesia.
Filosofi hidup yang dipegang erat oleh masyarakat Batak terdiri dari tiga prinsip utama:
Baca Juga:
Pemkab Pasaman Barat Evaluasi Statistik Sektoral 2026 Perkuat Implementasi Satu Data Indonesia
Hamoraon (kekayaan)
Hagabeon (keturunan sukses)
Hasangapon (kehormatan)
Menurut Togar, pendidikan adalah kunci utama untuk meraih ketiga prinsip tersebut. Tak heran jika banyak orang tua Batak rela berkorban habis-habisan demi menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke jenjang tertinggi.
Mereka bahkan tak segan untuk menahan lapar, berhutang, dan mengikutsertakan anak-anaknya dalam berbagai les demi memastikan masa depan yang lebih cerah.
Baca Juga:
PLN Lakukan Verifikasi Data Pelanggan, Warga Diminta Siapkan Dokumen
Pandangan Sains
Nah, bagaimana relevansi semangat belajar suatu suku atau komunitas masyarakat jika dilihat dari pandangan ilmiahnya?
Menurut sains, ketika seseorang belajar atau mengejar capaian akademik, otak melepaskan dopamin ke dalam nucleus accumbens - area otak yang dikenal sebagai "pusat kesenangan". Proses ini mirip dengan apa yang terjadi ketika kita makan makanan lezat atau mencapai sebuah prestasi.