Purbaya juga menepis anggapan bahwa daya beli masyarakat melemah. Ia merujuk pada Indeks Keyakinan Konsumen yang masih berada di atas level 100, yang mencerminkan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi.
Sementara itu, tingkat inflasi yang mencapai 4,76 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Februari 2026 disebut dipengaruhi faktor temporer, yakni efek basis rendah akibat program diskon listrik pada tahun sebelumnya. Tanpa faktor tersebut, inflasi diperkirakan berada di level 2,59 persen, masih dalam kisaran target pemerintah.
Baca Juga:
Pendapatan Negara Tumbuh Positif, PPN-PPnBM Melonjak 97 Persen hingga Februari 2026
Menkeu juga menyoroti kuatnya koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter, termasuk dengan Bank Indonesia. Salah satunya melalui penempatan kas pemerintah sebesar Rp200 triliun yang membantu menjaga likuiditas perbankan. Dampaknya, suku bunga kredit tercatat turun menjadi 8,8 persen pada Januari 2026.
Dari sisi realisasi APBN, hingga akhir Februari 2026 pendapatan negara tercatat sebesar Rp358 triliun atau 11,4 persen dari target, tumbuh 12,8 persen secara tahunan. Penerimaan pajak bahkan meningkat signifikan sebesar 30,4 persen.
Di sisi belanja, realisasi mencapai Rp493,8 triliun atau 12,8 persen dari pagu, melonjak 41,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pemerintah mengakselerasi belanja sejak awal tahun untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.
Baca Juga:
PAN Dukung Prabowo, Setuju Gaji Menteri Dipotong dan WFH Diterapkan
Dengan perkembangan tersebut, defisit APBN tercatat sebesar Rp135,7 triliun atau setara 0,53 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), yang dinilai masih dalam batas aman.
“Secara keseluruhan, kombinasi pendapatan negara yang tumbuh positif, belanja yang terakselerasi, serta defisit yang tetap terkendali menunjukkan bahwa APBN terus berperan optimal sebagai instrumen stabilisasi sekaligus penggerak pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Purbaya.
[Redaktur: Jupriadi]