WAHANANEWS.CO, Jakarta - Sebuah pernyataan keras dari pendiri Alibaba, Jack Ma, mendadak menjadi sorotan setelah ia menyebut bahwa 99,9 persen orang di dunia tidak memiliki masa depan jika generasi muda terbaik memilih menyerah pada ketakutan dan pesimisme.
Saat berbicara di Lomonosov Moscow State University, Rabu (3/6/2026), Jack Ma menyoroti kecemasan yang kerap menghantui mahasiswa dan generasi muda ketika menghadapi ketidakpastian masa depan.
Baca Juga:
Setelah Dicopot Prabowo, Harta Rp9 Miliar Dadan Hindayana Jadi Sorotan, Ini Isi Garasinya
"Jika kalian dari Universitas Moskow tidak dapat menyelesaikan masalah ini, jika kalian khawatir, seluruh dunia, 99,9% orang di dunia tidak memiliki masa depan," terangnya.
Menurut Ma, kegelisahan terhadap masa depan sebenarnya tidak hanya dialami masyarakat umum, tetapi juga mereka yang memiliki pendidikan tinggi dan kemampuan terbaik.
Ia menilai, apabila kelompok yang paling cerdas dan paling siap menghadapi perubahan justru larut dalam rasa takut, maka harapan untuk menemukan solusi atas berbagai persoalan global akan semakin kecil.
Baca Juga:
Heboh Begal di Probolinggo Ternyata Bohong, Pria Ini Lukai Diri Sendiri dan Jual Motor Ayah
"Bersikaplah positif. Bersiaplah untuk itu," tegas Ma.
Pesan tersebut menjadi penekanan bahwa energi dan waktu tidak seharusnya dihabiskan untuk memelihara kekhawatiran yang belum tentu terjadi.
Alih-alih terus memikirkan kemungkinan buruk, Ma mendorong generasi muda untuk segera bergerak dan mulai mengambil langkah nyata tanpa harus menunggu segala sesuatu menjadi sempurna.
Dalam pandangannya, tindakan jauh lebih penting dibandingkan sekadar memikirkan ketidakpastian yang ada di depan mata.
Ia juga menolak pola pikir pasif yang hanya menunggu masa depan datang dengan sendirinya tanpa upaya untuk mengubah keadaan.
"Ketika orang khawatir, bukalah pintunya, lihat apa yang mereka khawatirkan, dan mereka akan menyelesaikan masalahnya."
Ma menjelaskan bahwa setiap ketakutan yang muncul di masyarakat sesungguhnya menyimpan peluang yang dapat dimanfaatkan oleh mereka yang mampu memahami akar persoalannya.
Ketika banyak orang takut kehilangan pekerjaan akibat perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan, menurutnya kondisi tersebut justru membuka ruang bagi lahirnya solusi dan inovasi baru.
Begitu pula saat masyarakat cemas menghadapi perubahan yang berlangsung cepat, keadaan itu dapat menjadi celah bagi generasi muda untuk menciptakan jawaban atas tantangan yang ada.
Karena itu, Ma menekankan bahwa tugas utama kaum muda yang berpendidikan bukanlah menghindari masalah atau menjauh dari ketakutan yang berkembang di tengah masyarakat.
Sebaliknya, mereka harus berani menghadapi kekhawatiran tersebut, memahaminya secara mendalam, lalu mengubahnya menjadi solusi yang memberikan manfaat bagi banyak orang.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]