Kedua, berkaitan dengan masalah perubahan iklim.
Penggunaan pupuk organik dan pestisida nabati yang biasanya dibuat sendiri oleh petani (bukan pupuk dan pestisida buatan pabrik) akan menurunkan emisi karbon dari sumber manufaktur yang sebagian besar energinya masih bersumber dari bahan bakar fosil.
Baca Juga:
Godzilla El Nino Intai Indonesia, BRIN Peringatkan Kemarau Ekstrem 2026
Penggunaan pupuk kompos dan tanaman pengikat nitrogen sebagai pengganti pupuk kimia juga dapat diharapkan menurunkan emisi nitrous oxide (NOx), salah satu elemen gas rumah kaca yang ditengarai bersumber dari penggunaan pupuk kimia secara intensif.
Ketiga, dalam hal konsumsi air.
Pertanian organik berpotensi lebih menghemat air.
Baca Juga:
ATR/BPN Matangkan Penetapan Lahan Sawah Dilindungi di 12 Provinsi
Pupuk kimia dianggap menjadi penyebab struktur tanah menjadi lebih liat, menurunkan kemampuan tanah menyerap air.
Sebagai akibatnya, pertanian konvensional biasanya memerlukan lebih banyak air.
Sawah dengan sistem konvensional perlu digenangi.