WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan di kawasan Teluk Persia membuat dua kapal tanker milik PT Pertamina (Persero) tertahan, sementara pemerintah berpacu dengan waktu memastikan jalur vital Selat Hormuz tetap aman dilintasi demi menjaga pasokan energi nasional.
Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menegaskan tidak terlibat langsung dalam proses negosiasi antara PT Pertamina (Persero) dan pemerintah Iran terkait upaya meloloskan dua kapal tanker melewati Selat Hormuz, Selasa (7/4/2026).
Baca Juga:
Iran Dorong Kontrol Selat Hormuz Sepenuhnya oleh Negara Pesisir
Chief Operating Officer BPI Danantara sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa lembaganya hanya memantau perkembangan pembahasan tanpa masuk ke ranah teknis maupun diplomasi.
“Itu nanti silakan tanya sama tim yang lainnya saja,” ujarnya jelang rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Sebagai jalur pelayaran strategis dunia, Selat Hormuz memiliki peran krusial dalam distribusi energi global, termasuk bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak dan produk turunannya.
Baca Juga:
TNI Hadirkan Aksi Kemanusiaan di Papua, Warga Terima Bantuan dan Layanan Kesehatan
Dony kembali menegaskan bahwa Danantara tidak memiliki peran operasional dalam proses tersebut, melainkan sebatas fungsi pengawasan terhadap BUMN.
“Kalau saya enggak, kita cuma memonitor saja, tapi tidak terlibat langsung dalam prosesnya,” katanya.
Sebelumnya, Pertamina melaporkan dua kapal tanker mereka tertahan di kawasan Teluk Arab, yakni Pertamina Pride yang dikelola oleh NYK serta kapal Gamsunoro yang berada di bawah manajemen Synergy Ship Management.