"Sehingga pembelian dolar sampai dengan atau di atas 25.000 itu harus pakai underlying ya. Itu yang kami akan perkuat, ini akan kami perkuat dalam negeri," kata Perry.
Langka lain yang akan diambil Bank Indonesia untuk penguatan Rupiah adalah melakukan intervensi secara tunai dan domestic non-deliverable di dalam negeri, dan juga non-deliverable forward (NDF) di pasar luar negeri.
Baca Juga:
Ketidakpastian Global Memuncak, Perry Sebut Dampak Tarif AS Semakin Nyata
"Di Hong Kong, di Singapura, di London, di New York kami terus akan melakukan intervensi untuk menstabilkan Rupiah baik di dalam negeri maupun dari luar negeri. Cadangan devisa kami lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar Rupiah itu," katanya.
"Yang kedua, tadi Pak Menko sudah menyebutkan karena sementara ini SBN itu keluar, kemudian saham, meskipun dalam minggu-minggu terakhir hasil koordinasi dengan Pak Menteri Keuangan sudah mulai inflow tapi year to date masih outflow. Sementara saham terjadi outflow, sehingga kami bersepakat untuk sementara ini SRBI dibuat perlu inflow, sehingga inflow-nya SRBI bisa mencukupi outflow-nya SBN dan saham," sambungya.
Langkah itu, ujarnya, berkoordinasi dengan Pak Menteri Keuangan sehingga betul-betul menjaga inflow portofolio asing itu.
Baca Juga:
Pasca Pandemi Covid-19, Duet Bos BI dan Sri Mulyani Bawa Ekonomi RI Terbaik di Dunia
"Sehingga masih year to date-nya masih terjadi inflow dan itu memperkuat nilai tukar Rupiah," katanya.
Langkah ketiga, berkoordinasi dengan Menteri Keuangan, BI akan terus membeli SBN dari pasar sekunder.
"Ini koordinasi sudah awal tahun koordinasi dan kita lakukan. Kami sudah membeli SBN dari pasar sekunder year to date adalah Rp123,1 triliun. Dan kami akan melakukan koordinasi termasuk nanti Pak Menteri Keuangan bisa melakukan masalah buyback dan segala macam, koordinasi sangat erat antara fiskal dan moneter," katanya.