"Jadi kita bisa continue stabil produksinya di level 240 ribu ton bijih per hari," imbuhnya.
Selain menjaga tingkat produksi, pengembangan Kucing Liar menjadi bagian dari strategi jangka panjang Freeport Indonesia untuk mempertahankan keberlanjutan kegiatan pertambangan di kawasan Grasberg.
Baca Juga:
RI Berencana Nambah Lebih dari 10% Saham Freeport
Perusahaan juga mengaitkan keberlanjutan pengembangan proyek tambang bawah tanah tersebut dengan kepastian perpanjangan Izin Usaha Pertambangan Khusus atau IUPK setelah 2041.
Kepastian hukum mengenai kelanjutan operasi setelah 2041 dinilai penting agar perusahaan dapat melakukan investasi jangka panjang dan mengeksplorasi potensi cadangan mineral pada level yang lebih dalam.
Eksplorasi tersebut diharapkan membuka potensi cadangan baru yang dapat memperpanjang usia tambang sekaligus menjaga keberlanjutan produksi tembaga dan emas Freeport Indonesia.
Baca Juga:
Longsor Grasberg Freeport: Tim Evakuasi Temukan Dua Pekerja Tak Bernyawa
Tony menilai penghentian kegiatan pertambangan pada 2041 tidak hanya berdampak terhadap perusahaan, tetapi juga berpotensi menghilangkan berbagai manfaat ekonomi yang selama ini dihasilkan operasi Freeport.
"Intinya adalah kalau tambang itu berhenti di 2041 tidak ada yang diuntungkan," ucapnya.
Menurut Tony, penghentian operasi Freeport Indonesia setelah izin berakhir dapat berdampak pada penerimaan pemerintah, kelangsungan sekitar 30 ribu tenaga kerja, hingga program pengembangan masyarakat yang selama ini dijalankan perusahaan.