Banyak orang di berbagai belahan dunia mencoba untuk membeli uang kripto dengan metode berbeda-beda.
Bankman-Fried melihat kondisi ini membutuhkan infrastruktur yang cukup untuk pasar kripto, dengan potensi permintaan akan melebihi likuiditas.
Baca Juga:
Elon Musk Gagal Akuisisi OpenAI, Ini Alasan Penolakan Tegas dari Dewan Direksi
Setelahnya, Bankman-Fried mulai membangun FTX, yang kini telah menjelma menjadi salah satu pertukaran aset digital terbesar dan paling cepat berkembang di dunia.
Namun pada akhir 2018, platform tersebut terbilang berantakan dan kehilangan US$1 juta per hari dari aset nasabah.
Ia kemudian membangun ulang FTX dan meluncurkannya kembali pada 2019. Dari sanalah FTX kemudian berkembang dan bahkan sempat jadi bursa mata uang kripto terbesar keempat yang berbasis di luar China.
Baca Juga:
KPK Tahan Tiga Pejabat ASDP, Dugaan Korupsi Akuisisi Capai Rp893 Miliar
Pada 2022, Bankman-Fried sempat memiliki sekitar 70 persen dari bisnis FTX di AS, yang sekarang diperkirakan nilainya menjadi tidak berharga.
Selain itu, sahamnya di pialang online Robinhood, yang sebelumnya bernilai lebih dari US$500 juta, telah dihapus dari perhitungan Bloomberg.
Batal Diakuisi Binance