Tohom mengatakan rencana perpindahan seluruh saham perusahaan gabungan ke bawah Pos Indonesia pada 2027 juga patut dilihat sebagai peluang untuk mengoptimalkan jaringan Pos yang selama ini memiliki jangkauan luas hingga pelosok.
Menurutnya, Pos Indonesia memiliki nilai historis, jaringan layanan, dan pengalaman distribusi yang dapat menjadi tulang punggung penting dalam membangun logistik modern berbasis konektivitas nasional.
Baca Juga:
Tol Listrik Sumatera Diperkuat Lewat 217 Tower, ALPERKLINAS: Ini Investasi Keandalan untuk Konsumen
“Pos Indonesia punya modal jaringan yang sangat kuat, sehingga jika dikawinkan dengan kekuatan terminal, pelabuhan, pergudangan, dan distribusi BUMN lain, hasilnya bisa menjadi mesin logistik nasional yang jauh lebih efisien,” ujar Tohom.
Ia juga menilai rencana perluasan konsolidasi dengan masuknya PT Semen Indonesia Logistik dan PT Pupuk Indonesia Logistik pada fase berikutnya akan membuat holding logistik semakin lengkap dari sisi lini bisnis dan cakupan layanan.
Menurut Tohom, masuknya perusahaan logistik dari sektor semen dan pupuk akan memperkuat peran holding dalam mendukung distribusi bahan strategis yang berkaitan langsung dengan pembangunan dan ketahanan pangan.
Baca Juga:
Geger 100 Titik Dapur MBG di Cilacap Diduga Fiktif, Ada yang Berlokasi di Hutan dan Kuburan
“Kalau Semen Indonesia Logistik dan Pupuk Indonesia Logistik ikut masuk, maka konsolidasi ini tidak hanya bicara barang umum, tetapi juga menyentuh sektor strategis yang menentukan pembangunan infrastruktur dan produktivitas pertanian,” katanya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa integrasi logistik BUMN juga penting untuk kawasan aglomerasi yang membutuhkan arus barang cepat, tertata, dan tidak membebani biaya hidup masyarakat.
Ia menilai kawasan perkotaan besar dan daerah penyangga membutuhkan sistem logistik yang lebih cerdas agar distribusi tidak tersendat, biaya angkut tidak membengkak, dan harga barang di tingkat konsumen tetap rasional.