“Di kawasan aglomerasi, logistik adalah urat nadi ekonomi harian, sehingga konsolidasi BUMN ini bisa menjadi jawaban atas kebutuhan distribusi yang lebih tertib dan efisien,” ujar Tohom.
Menurutnya, target peningkatan titik layanan dari 78 titik kumulatif menjadi sekitar 150 hingga 160 lini bisnis merupakan gambaran bahwa integrasi ini memiliki potensi memperluas jangkauan layanan ke berbagai daerah.
Baca Juga:
Tol Listrik Sumatera Diperkuat Lewat 217 Tower, ALPERKLINAS: Ini Investasi Keandalan untuk Konsumen
Tohom mengatakan perluasan jaringan tersebut harus diarahkan untuk memperkuat pemerataan ekonomi, bukan hanya meningkatkan pendapatan perusahaan.
“Pertumbuhan titik layanan harus diterjemahkan menjadi manfaat nyata, yaitu daerah lebih mudah mendapat pasokan, pelaku UMKM lebih mudah mengirim barang, dan masyarakat memperoleh harga yang lebih wajar,” katanya.
Ia juga memandang proyeksi revenue perusahaan gabungan sebesar Rp 2,38 triliun dan potensi profit sekitar Rp 100 miliar pada tahun berjalan sebagai sinyal bahwa integrasi ini memiliki dasar bisnis yang sehat.
Baca Juga:
Geger 100 Titik Dapur MBG di Cilacap Diduga Fiktif, Ada yang Berlokasi di Hutan dan Kuburan
Namun, Tohom mengingatkan bahwa keberhasilan holding logistik tidak cukup diukur dari pendapatan dan laba, tetapi juga dari kemampuan menurunkan biaya logistik nasional secara berkelanjutan.
“Profit memang penting bagi keberlanjutan usaha, tetapi ukuran besarnya adalah apakah konsolidasi ini benar-benar mampu memotong duplikasi biaya dan membuat layanan logistik Indonesia lebih kompetitif,” ucapnya.
Tohom mengatakan duplikasi margin dalam rantai logistik selama ini menjadi salah satu persoalan yang perlu dibereskan agar biaya akhir tidak terus dibebankan kepada pelaku usaha dan konsumen.