"Karena tugas kami itu memastikan availability, accessibility, acceptability, dan juga affordability. Jadi kami mengutamakan availability sehingga mode kilangnya adalah mode memaksimalkan kuantitas produksi. Saat ini berproduksi kurang lebih 1,1 juta barel," katanya.
Lebih lanjut, Mars Ega menegaskan bahwa seluruh kilang yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia telah dipastikan beroperasi secara optimal guna menjaga kelancaran rantai pasok energi.
Baca Juga:
Pertamina Patra Niaga dan Princeton Digital Group Jalin Kemitraan Strategis Pemanfaatan HVO
Selain itu, langkah ini juga bertujuan untuk melakukan pengisian ulang stok (top up) secara berkelanjutan seiring meningkatnya penyaluran BBM ke masyarakat.
"Dan sejauh ini tadi sudah kami sampaikan mode kilang kita setting adalah mode maksimal quantity. Jadi maksimal produksi dalam konteks memaksimalkan keluaran volumenya. Dengan konteks perubahan mode ini, mudah-mudahan ini bisa melakukan atau menjaga ketersediaan stok kita selalu pada level aman," ujar Mars Ega.
Adapun sejumlah kilang yang saat ini beroperasi secara maksimal tersebar di berbagai wilayah strategis, antara lain Dumai, Plaju, Balongan, Cilacap, Balikpapan, dan Sorong.
Baca Juga:
Libur Tahun Baru Islam, Pertamina Siaga Tambahan Gas Subsidi dan Pantau SPBU
Keberadaan kilang-kilang tersebut menjadi tulang punggung dalam menjaga suplai energi nasional.
Tidak hanya dari sisi produksi, Pertamina Patra Niaga juga memperkuat pengawasan distribusi hingga ke tingkat lembaga penyalur.
Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi berbagai potensi kendala di lapangan, seperti kemacetan lalu lintas, kondisi cuaca ekstrem, bencana alam, hingga gangguan pada fasilitas distribusi.