"Karena China sadar bisnis di Indonesia sensitif, ada sentimen anti-China," tuturnya.
Seperti diketahui, awalnya proyek KCJB akan menelan biaya sebesar US$ 6,07 miliar. Indonesia mendapatkan pinjaman dari China Development Bank (CBD) untuk proyek tersebut sekitar 75%
Baca Juga:
Awas! Ambil Bantal Kursi di Kereta Cepat, Penumpang Bisa Kena Sanksi Pidana
Namun, dalam perjalanannya biaya proyek tersebut membengkak (cost overrun) sebesar US$ 1,2 miliar. Namun, beban cost overrun itu dibagi dua antara China dan Indonesia.
Indonesia harus membayar sekitar US$ 720 juta dan mendapat pinjaman dari CBD untuk membayar cost overrun sebesar US$ 550 juta dengan bunga 3,4% dan tenor 30 tahun.
Saat ini, Indonesia telah berhasil bernegosiasi terkait besaran bunga pinjaman itu sekitar 3,6% sampai 3,7%.Jakarta, CNBC Indonesia-Ekonom senior Faisal Basri mengatakan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) sebenarnya hampir batal.
Baca Juga:
Hasil Diversi dan Litmas, Polsek Siantar Martoba Tetap Tahan Anak Pencuri Besi Pentol Kereta Api
Menurut dia, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan memiliki peran sehingga proyek itu terus berlanjut hingga sekarang bisa beroperasi.
Faisal mengaku pernah berdiskusi langsung dengan Luhut pada November 2021 mengenai proyek ini. Dia bilang Luhut mengaku bahwa proyek KCJB bukanlah proyek yang bagus.
"Kita enggak sanggup nih, Luhut menganggap proyek ini proyek sampah," kata Faisal dalam diskusi di Universitas Paramadina, Jakarta, Selasa (17/10/2023).