Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah saat ini berada di kisaran Rp16.980 per dolar AS dan cenderung melemah mendekati level Rp17.000.
"Kemungkinan besar, rupiah akan menuju Rp17.100 per dolar AS pada pekan depan. Indeks dolar cenderung menguat ke rentang 99,3-101,6," ucap Ibrahim.
Baca Juga:
Kementerian ESDM Ungkap Harga Minyak Mentah RI Turun di Bulan Juni
Menurutnya, eskalasi konflik antara AS dan Iran yang turut melibatkan sejumlah negara di kawasan Teluk telah menyebabkan gangguan besar terhadap produksi dan distribusi minyak dunia.
Sejumlah fasilitas kilang minyak dilaporkan mengalami kerusakan, sementara distribusi melalui Selat Hormuz mengalami hambatan serius.
Selain itu, konflik berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina juga turut memperparah kondisi pasar energi global.
Baca Juga:
Realisasi Subsidi Energi Tembus Rp157 Triliun, Tertinggi Sejak 2015
Ketegangan tersebut menyebabkan penurunan produksi minyak dan gas secara signifikan di beberapa wilayah.
"Perang menyebabkan turunnya produksi minyak dan gas, di Timur Tengah produksi minyak sudah berkurang 10 juta barel per hari," ujar Ibrahim.
Ia menambahkan bahwa konflik Rusia-Ukraina diperkirakan akan berlangsung dalam jangka panjang, yakni antara tiga hingga lima tahun.