Selain India, beberapa negara lain juga berpotensi mengalami disrupsi pasokan. Lantas, seberapa besar dampaknya?
Mengutip rilis ASEAN Briefing, disebutkan India, China, Pakistan, dan Spanyol yang merupakan pasar utama CPO RI lah akan paling terdampak.
Baca Juga:
Modus Rekayasa Ekspor Sawit, Negara Diperkirakan Rugi Rp14 Triliun
Sekitar setengah dari konsumsi minyak sawit mentah India berasal dari Indonesia, sebesar 8 juta ton per tahun. Dengan larangan tersebut, minyak nabati, yang sudah berada pada titik tertinggi sepanjang masa, diperkirakan akan meningkat lebih jauh.
Merek global juga diperkirakan terkena dampak larangan tersebut. Pada 2020, Nestle membeli sekitar 450 ribu ton minyak sawit dan minyak inti sawit dari Indonesia dan Malaysia.
Sedangkan, P&G menggunakan sekitar 650 ribu ton minyak sawit selama tahun fiskal 2020-2021 untuk beragam produk kategori kecantikan dan rumah. Sekitar 70 persen minyak sawitnya bersumber dari Indonesia dan Malaysia.
Baca Juga:
AS Lepas Tarif Sawit, Indonesia Panen Peluang dan Tekan Dominasi Eropa
Merek global lain yang sangat bergantung pada minyak sawit termasuk L'Oréal, Ferrero, Danone, dan Unilever. Jika larangan berlangsung alot, bisa jadi biaya produksi mereka naik harga.
Di sisi lain, perang Rusia dan Ukraina ikut mengganggu pasokan minyak nabati dunia, sehingga sumber yang ada kian terbatas.
Keadaan ini membuat Malaysia lah yang paling diuntungkan sebagai pemain utama selain Indonesia. Mengutip data dari Malaysian Palm Oil Board, harga ekspor minyak sawit melonjak 48,3 persen pada Maret jika dibandingkan Februari lalu.