WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ancaman krisis global akibat konflik Timur Tengah mulai membayangi sektor pariwisata Indonesia, memicu pemerintah untuk bergerak cepat melakukan reformasi demi menyelamatkan devisa dan kunjungan wisatawan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai sektor pariwisata nasional menghadapi tekanan serius akibat terganggunya konektivitas global.
Baca Juga:
DPRD Toba Dalam Rangka Penyampaian Hasil Pelaksanaan Reses Soroti Peningkatan Infrastruktur Pariwisata Kabupaten Toba
“Indonesia perlu segera melakukan reformasi untuk memitigasi kerugian akibat krisis global, serta membangun fondasi pariwisata dan destinasi yang kompetitif, tangguh, dan berdaya saing tinggi di kancah internasional,” ujar Airlangga dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu (18/3/2026).
Kementerian Pariwisata memproyeksikan potensi kehilangan sekitar 5.500 wisatawan mancanegara serta kerugian devisa mencapai Rp184,8 miliar per hari apabila kondisi ini tidak segera ditangani.
Gangguan juga tercatat pada sembilan rute internasional di Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Ngurah Rai berdasarkan laporan InJourney Airports pada periode akhir Februari hingga 10 Maret 2026.
Baca Juga:
DPR Minta Bali Jadi Prioritas Anggaran, Kontribusi Devisa Capai 44 Persen
Dampak dari gangguan tersebut memengaruhi mobilisasi sebanyak 47.012 penumpang internasional.
Tekanan terhadap sektor ini semakin berat akibat kenaikan harga avtur yang berdampak langsung pada biaya operasional penerbangan.
Meski demikian, Airlangga menegaskan sektor pariwisata tetap menjadi salah satu tulang punggung ekonomi nasional.