"Depresiasi nilai tukar rupiah semakin berdampak pada sektor riil, mendorong perusahaan untuk menunda rencana ekspansi, membatasi pengeluaran yang tidak penting, mendiversifikasi pasar, meningkatkan penggunaan bahan baku lokal dan memperkuat strategi lindung nilai mata uang, sebuah organisasi industri Indonesia mengatakan," tulis laman tersebut.
"Dunia usaha di Indonesia menerapkan langkah-langkah pemotongan biaya dan membekukan perekrutan tenaga kerja baru ketika nilai tukar rupiah melemah melampaui 18.000 terhadap dolar AS, kata Shinta Kamdani, ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo)," tulisnya.
Baca Juga:
Rupiah Terus Menghadapi Tekanan Disorot Media Asing, Tulis Ini!
"Tantangan dunia usaha saat ini adalah dampaknya terhadap biaya produksi, pembiayaan, dan kepastian usaha, kata Shinta seraya mencatat sekitar 80 persen bahan baku Indonesia masih diimpor."
Masih merujuk Apindo, Xinhua menyebut bagaimana melemahnya nilai tukar rupiah telah meningkatkan biaya produksi, menekan margin keuntungan, dan mengurangi kemampuan perusahaan untuk melakukan ekspansi. Industri yang sangat bergantung pada bahan baku impor, termasuk tekstil, bahan kimia, petrokimia, plastik, logam dasar, elektronik, dan manufaktur otomotif, termasuk yang paling terkena dampaknya.
"Shinta juga menyebutkan tingginya biaya logistik, energi, dan pembiayaan sebagai beban tambahan bagi dunia usaha, sembari mencatat bahwa aktivitas manufaktur dan kepercayaan dunia usaha telah melemah dalam beberapa bulan terakhir," tambah laman tersebut.
Baca Juga:
Prabowo Hadiri Parade Militer di Beijing Jadi Bahasan Media Asing
"Dia memperingatkan bahwa depresiasi yang terjadi saat ini lebih dalam dibandingkan dengan yang terlihat pada kuartal pertama tahun ini, ketika beberapa subsektor manufaktur sudah mencatat pertumbuhan yang lamban atau kontraksi."
[Redaktur: Alpredo Gultom]