Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq saat menyampaikan sambutannya dalam acara Anugerah Lingkungan PROPER 2025 di Jakarta (7/4/2026). Dalam sambutannya, dirinya mengapresiasi seluruh penerima penghargaan yang dinilai sukses menerapkan praktik pengelolaan perusahaan berbasis keberlanjutan lingkungan.
“Kami terus mendorong inovasi teknologi hijau, kolaborasi global, dan menjadikan keberlanjutan sebagai budaya kerja. PROPER adalah momentum untuk bertransformasi dari sekadar compliance menjadi lead dalam transisi energi. Kini tugas PLN bukan hanya menyediakan listrik yang andal, tapi juga memastikan listrik tersebut semakin bersih, ramah lingkungan, dan memberikan nilai tambah bagi kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Baca Juga:
Pemeliharaan Jaringan, Ini Rencana Lokasi Terdampak Padam Listrik PLN di Kota Sorong, Kamis dan Sabtu
Sebagai bagian dari komitmen tersebut, PLN secara konsisten menjalankan berbagai program penurunan emisi gas rumah kaca, mulai dari dekarbonisasi hingga pengembangan pembangkit berbasis energi baru terbarukan.
Dalam periode 2021 hingga 2025, PLN berhasil meningkatkan capaian reduksi emisi dari 12,9 juta ton CO2 menjadi 51,1 juta ton CO2.
Selain itu, kapasitas pembangkit energi baru terbarukan PLN juga mengalami peningkatan signifikan hingga mencapai sekitar 9,4 gigawatt (GW) pada tahun 2025.
Baca Juga:
Dukung Ibadat Jumat Agung, PLN UID Jakarta Raya Siagakan Listrik Berlapis
PLN juga memperluas pengembangan pembangkit berbasis gas yang produksinya mencapai 33,7 terawatt hour (TWh) di tahun yang sama sebagai bagian dari strategi transisi energi.
Dalam upaya dekarbonisasi yang lebih inovatif, sejak 2023 PLN mulai mengembangkan hidrogen hijau dengan mengoperasikan Green Hydrogen Plant (GHP) pertama di Indonesia yang berlokasi di PLTGU Muara Karang, Jakarta.
Tidak hanya itu, PLN juga menjadi pelopor di kawasan Asia Tenggara dengan menghadirkan GHP berbasis energi panas bumi di PLTP Kamojang, Jawa Barat pada 2024.