Data tersebut mengindikasikan kondisi operasional manufaktur yang relatif stabil setelah sempat mengalami kontraksi pada bulan sebelumnya.
Perbaikan kinerja manufaktur terutama didorong oleh peningkatan permintaan domestik yang memacu kenaikan pesanan baru selama dua bulan berturut-turut.
Baca Juga:
Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara, Mahfud MD Ragukan Unsur Niat Jahat dalam Kasus Chromebook
Bahkan, pertumbuhan pesanan baru pada Mei 2026 menjadi yang tercepat sejak Februari tahun ini.
Selain itu, BPS juga melaporkan surplus neraca perdagangan Indonesia masih berlanjut hingga April 2026 di tengah ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi global.
Kinerja ekspor nonmigas, terutama dari sektor industri pengolahan, menjadi motor utama yang menopang surplus perdagangan nasional.
Baca Juga:
Jangan Terjebak Drama, Ini 8 Cara Cerdas Menghadapi Orang yang Suka Playing Victim
Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan sepanjang Januari hingga April 2026 mencapai 5,64 miliar dolar AS.
Indonesia juga berhasil mempertahankan tren surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memproyeksikan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih akan bergerak fluktuatif.