WAHANANEWS.CO, Jakarta - Rupiah tembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS, kalangan importir mulai angkat suara karena tekanan kurs dinilai kian menyesakkan dunia usaha.
Kalangan importir yang tergabung dalam Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) menyoroti pelemahan rupiah yang terus berlanjut terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Baca Juga:
Kegiatan Rutin Masyarakat Peduli Danau Sipin: Potensi Wisata Dikepung 3 Ton Sampah Setiap Hari serta Minimnya Perhatian Pemerintah
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), kurs rupiah pada Rabu (1/4/2026) tercatat di level Rp17.002 per dolar AS.
Sejak awal Maret 2026, pergerakan rupiah dalam catatan JISDOR memang telah konsisten berada di kisaran Rp16.900 per dolar AS dengan tren melemah yang terus berlanjut.
Pada Senin (16/3/2026), rupiah berada di level Rp16.990 dan semakin tertekan hingga menyentuh Rp16.999 pada Selasa (31/3/2026).
Baca Juga:
DPR Ungkap Narasi Sesat dan Dugaan Perlawanan di Balik Kasus Amsal Sitepu
"Sebetulnya importir sudah putus asa terkait pelemahan rupiah terhadap dolar," kata Ketua Umum GINSI Subandi, Kamis (2/4/2026).
Ia menilai belum ada kebijakan dari otoritas moneter yang mampu menahan laju pelemahan rupiah agar kembali stabil.
"Kebijakan demi kebijakan tetap saja enggak ada perubahan yang di harapkan pelaku usaha," tuturnya.