"Bahkan ketika BI mengeluarkan kebijakan memperketat aturan transaksi valas dengan tujuan agar bisa mengendalikan nilai rupiah terhadap dollar juga importir pasrah," ungkap Subandi.
Menurutnya, pelemahan rupiah berdampak langsung pada lonjakan biaya impor yang kini meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Juga:
Mulai April 2026 ASN WFH Setiap Jumat, Begini Aturannya
"Yang pasti harga beli barang dari negara asal naik, ongkos pengiriman dari negara asal seperti transportasi laut naik, biaya di pelabuhan yang menggunakan mata uang US$ naik," tegas Subandi.
Ia memperkirakan kenaikan biaya impor tersebut berada di kisaran 15 hingga 20 persen dengan tekanan terbesar berasal dari biaya logistik internasional.
Di sisi lain, rupiah sempat menguat tipis pada penutupan perdagangan Rabu (1/4/2026) dengan apresiasi 0,09 persen ke level Rp16.975 per dolar AS.
Baca Juga:
Kegiatan Rutin Masyarakat Peduli Danau Sipin: Potensi Wisata Dikepung 3 Ton Sampah Setiap Hari serta Minimnya Perhatian Pemerintah
Namun dalam perdagangan intraday, rupiah sempat menyentuh level Rp17.026 per dolar AS yang menjadi titik terlemah sepanjang sejarah secara intraday.
Kondisi tersebut menjadi momen pertama kalinya rupiah menembus level Rp17.000 per dolar AS di pasar spot.
Kepala Ekonom Davidi Sumual menjelaskan tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, terutama kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah.