"Jadi masih soal sentimen negatif eksternal seperti kenaikan harga minyak dan kekhawatiran dampaknya ke APBN. Ada selling pressures yang cukup kuat dari asing di pasar SUN," ucap Sumual, Rabu (1/4/2026).
Ia menambahkan, kekhawatiran terhadap dampak lonjakan harga minyak terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) turut memperburuk sentimen pasar.
Baca Juga:
Mulai April 2026 ASN WFH Setiap Jumat, Begini Aturannya
Kepala Riset Ekonomi Makro dan Market Permata Bank Faisal Rachman menyebut tekanan terhadap rupiah juga berasal dari faktor domestik.
Ia menjelaskan salah satu faktor tersebut adalah keputusan pemerintah yang tidak menaikkan harga bensin non subsidi sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal.
Selain itu, membaiknya sentimen global membuat intervensi Bank Indonesia di pasar valas cenderung tidak seagresif sebelumnya.
Baca Juga:
Kegiatan Rutin Masyarakat Peduli Danau Sipin: Potensi Wisata Dikepung 3 Ton Sampah Setiap Hari serta Minimnya Perhatian Pemerintah
Masuknya periode triwulan kedua juga memicu peningkatan pembayaran imbal hasil aset keuangan kepada investor non-residen secara musiman.
"Dan keempat, ada antisipasi juga terhadap rilis data inflasi dan trade balance Indonesia," tegasnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.