WAHANANEWS.CO, Jakarta - Token listrik prabayar kerap disamakan dengan pulsa telepon seluler. Padahal, keduanya memiliki konsep dan mekanisme penggunaan yang berbeda.
Jika pulsa seluler berfungsi sebagai saldo rupiah untuk mengakses layanan komunikasi seperti internet, panggilan, dan pesan singkat, token listrik prabayar justru merupakan jatah energi listrik yang akan terus berkurang seiring pemakaian peralatan listrik di rumah.
Baca Juga:
Cara Klaim Token Listrik Gratis Lewat Aplikasi PLN Mobile
Pada skema listrik prabayar, pelanggan melakukan pembelian energi listrik terlebih dahulu dalam satuan kilowatt hour (kWh), bukan dalam bentuk saldo uang.
Energi listrik tersebut kemudian dimasukkan ke meteran dan akan berkurang setiap kali listrik digunakan hingga akhirnya habis dan perlu dilakukan pengisian ulang token.
Executive Vice President Komunikasi Korporat dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PLN (Persero), Gregorius Adi Trianto, menjelaskan bahwa sistem prabayar dirancang untuk memberikan kemudahan sekaligus kendali kepada pelanggan dalam memantau konsumsi listrik sejak awal.
Baca Juga:
Pemerintah Tetapkan Tarif Token Listrik PLN 5–11 Januari 2026
Ilustrasi pelanggan listrik prabayar mengisi token listrik secara mandiri. Melalui PLN Mobile, pembelian token menjadi lebih mudah dan pelanggan dapat memantau dan mengatur pemakaian listrik sesuai kebutuhan.
“Pada sistem prabayar, pelanggan membeli alokasi energi listrik dalam jumlah tertentu. Alokasi ini digunakan oleh seluruh peralatan listrik di rumah dan akan berkurang seiring pemakaian. Karena itu, total energi tersedia dalam satuan kilowatt hour (kWh),” ujar Gregorius.
Ia menambahkan, dalam praktiknya, penggunaan listrik tidak bisa dipisahkan berdasarkan jenis alat atau fungsi tertentu.