“Pasar saat ini tidak sehat,” ujar Kepala Riset Sparta Commodities AS, Neil Crosby.
Ia menilai harga minyak Brent fisik sudah terlalu tinggi dan berpotensi memaksa kilang-kilang Eropa menurunkan operasional dalam waktu dekat.
Baca Juga:
Tak Panik Selat Hormuz Ditutup, RI Buka Strategi Baru Pasokan Migas dari Afrika
Sementara itu, kondisi pasar fisik berbanding terbalik dengan pasar berjangka yang justru menunjukkan penurunan harga.
Harga minyak untuk pengiriman Juni tercatat turun sekitar 13 persen dalam sepekan dan ditutup di kisaran 95 dollar AS per barel, dipicu optimisme terhadap gencatan senjata.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan tekanan pasokan jauh lebih besar dibandingkan sentimen di pasar berjangka.
Baca Juga:
Minyak Berpotensi Sentuh 107 Dollar, Emas Ikut Bergejolak
Aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz memang mulai meningkat, tetapi masih jauh dari level normal sebelum konflik terjadi.
Bahkan jika aliran kembali normal, dampaknya tidak akan langsung terasa karena membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga minyak tiba di kilang Asia dan Eropa.
“Dunia kini menghadapi kesenjangan 40 hari dalam arus energi global,” kata CEO Abu Dhabi National Oil Company, Sultan al Jaber, Minggu (12/4/2026).