Lonjakan premi pengiriman cepat memicu tekanan tambahan di pasar yang dikenal sebagai kondisi backwardation.
Dalam situasi ini, harga minyak untuk pengiriman segera jauh lebih mahal dibandingkan kontrak jangka panjang.
Baca Juga:
Tak Panik Selat Hormuz Ditutup, RI Buka Strategi Baru Pasokan Migas dari Afrika
Kondisi tersebut membuat kilang, terutama yang berskala kecil, menghadapi beban pembiayaan yang semakin berat.
Selain itu, strategi lindung nilai menjadi semakin sulit karena perbedaan harga yang signifikan antara pasar fisik dan derivatif.
“Tantangan besar dalam manajemen risiko harga,” ujar Konsultan energi Roberto Ulivieri.
Baca Juga:
Minyak Berpotensi Sentuh 107 Dollar, Emas Ikut Bergejolak
Secara teori margin terlihat tinggi, namun arus kas riil di lapangan bisa sangat berbeda.
Dampaknya mulai terasa pada produk turunan, di mana sejumlah kilang mengurangi aktivitas yang berpotensi memperketat pasokan.
Harga bahan bakar jet dan solar kini telah mendekati atau bahkan menembus 200 dollar AS per barel.