Kesenjangan ini terjadi karena pengiriman terakhir sebelum konflik baru mulai mencapai tujuan masing-masing.
Kondisi tersebut tercermin dari tingginya premi yang bersedia dibayar kilang demi mendapatkan pasokan dalam waktu cepat.
Baca Juga:
Tak Panik Selat Hormuz Ditutup, RI Buka Strategi Baru Pasokan Migas dari Afrika
Sejumlah pembeli di Asia bahkan mengaku tidak lagi berfokus pada harga, melainkan pada ketersediaan demi menjaga keamanan energi.
Harga acuan Dated Brent sempat menyentuh 144 dollar AS per barel sebelum gencatan senjata, melampaui puncak tahun 2008, sebelum turun ke sekitar 126 dollar AS per barel namun tetap jauh di atas kontrak berjangka.
Negara-negara Asia yang bergantung pada Selat Hormuz kini memperluas sumber pasokan ke berbagai wilayah dunia.
Baca Juga:
Minyak Berpotensi Sentuh 107 Dollar, Emas Ikut Bergejolak
Jepang meningkatkan impor dari Amerika Serikat yang mencatat ekspor tertinggi, sementara China mendorong peningkatan pasokan dari Kanada.
India juga memperbesar pembelian dari Venezuela dengan volume pengiriman hampir 6 juta barel pada pekan pertama April, dua kali lipat dibandingkan periode yang sama sebelumnya.
Strategi logistik pun berubah, di mana kilang Jepang memilih kapal berukuran lebih kecil agar dapat melewati Terusan Panama demi mempercepat pengiriman dari AS.